Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Keinginan

Keinginan itu memang selalu juara jika dia sudah mendesak . Contohnya, kalo udah pingin kali bakso yodah ampe mati pun pasti dikejar abang baksonya. Kalo udah makan bakso baru bisa dibilang puas. Pokoknya keinginan itu adalah hal yang hampir mutlak harus dipenuhi. Nah, kenapa hampir mutlak ? Ya, karena gak semua keinginan kita itu bagus untuk kita. Ada juga keinginan kita yang negatif kayak narkoba atau yang lain. Hal itu yang buat keinginan itu hampir mutlak. Gak usah kita ikutin kali dunia ini, karena rata-rata keinginan kita dipengaruhi oleh dunia ini. Itu contoh mudah keinginan berdasarkan fisik. Cemana kalo soal perasaan ? Itu juga agak sulit dan menggelikan. Keinginan punya pacar atau keinginan supaya perasaan kita direspon oleh orang yang kita suka. Itu sih masih wajar, asal gak kau bunuh aja dia kalo ditolak. Biasanya keinginan soal perasaan memuncak saat kau pingin tau respon dia, yakan ?. Kek misalnya kau udah buat semuanya dari A ampe Z kau buat cuman untuk di...

Elastisitas hati dan pikiran

Mungkin ini saatnya aku mengatakan semuanya. Aku tahu ini seharusnya tak pernah aku katakan, setidaknya sampai saat yang tepat . Tapi aku sudah hampir kehabisan kata-kata. Semua kata yang aku berikan pasti hanya berujung pada satu makna dan aku yakin kau tahu itu. Mungkin setelah aku menuliskan ini, aku akan berhenti menuliskan sesuatu tentangmu. Aku ingin beristirahat sejenak, tak baik seseorang terlarut dalam kesedihan terlalu lama. Kau pernah bertanya “Kenapa sih gak ngejar wanita lain ?”. Jawabannya, aku tidak tahu. Aku merasa tak ada yang bisa menggantikanmu. Banyak kok yang datang dan sepertinya open terhadapku, tapi aku tak tahu mengapa semuanya hanya berlangsung sebentar. Aku menemukan rasa jenuh dan bosan , sangat beda jika denganmu. “Kenapa sih gak pernah muji aku cantik sekali aja ?” . Aku akui, aku tidak pernah mengatakan itu langsung terhadapmu. Aku tak mau mengatakannya kepadamu. Tapi percayalah, hati ini selalu berkata demikian setiap kita bertemu. “Kena...

Menjadi sama dengan

Aku tidak pernah berharap menjadi sama dengan. Karena itu sangat pahit. Aku tidak pernah tahu apa yan terjadi di belakangku, tak pernah mengerti keberadaan mereka. Namun aku harus menyatukan mereka, akulah tempat terakhir mereka sebelum bersatu. Aku tidak pernah berharap untuk menjadi sama dengan. Yang mungkin saja aku harus menjadi penutup cerita yang tidak bahagia. Menjadi penutup suatu kisah yang bahkan aku saja buta terhadapnya. Sudah cukup banyak kisah pahit yang menghangatkan tubuh ini. Menjadi sama dengan tidaklah mudah. Bersediakah kamu untuk hadir hanya sekedar menjadi ‘pengawal’ ?. Menjadi sama dengan bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang sulit. Yang perlu dilakukan hanyalah hadir dan mengakhiri sekian panjang bilangan . Cukup datang dan biarkan sang pencipta yang memutuskan. Sama dengan terdiri dari 2 garis yang tidak menyatu namun berdampingan. Panjang garis sama dengan selalu sama dan tidak pernah berubah. Mungkin ini yang dibutuhkan ‘pengawal’ akhir dari ...

Kodein aja

Aku bingung sebenarnya samamu. Kau kukasih kode kau responnya, tapi kau diam. Aku gak ngerti apa yang ada di pikiranmu itu. Kalo kau respon sikit aja kode itu trus kau kode balek, seujung kuku aja, pasti tau aku langkah selanjutnya yang mesti aku buat. Ini enggak, kau tau aku kode trus kau telan aja keknya semua. Apa cuman mau kau nikmatin ajanya semua yang udah aku buat ? Kalo mau gitu, ke Temzon matahari sana aja kau . Aku capek lah kalo kekgini terus. Aku sebenarnya, masih jauh di otak aku untuk nyari yang lain. Kalo diumpamakan, kalo sekarang aku di Medan, nah pikiran aku untuk nyari penggantimu itu di Planet Venus sana. Masih belum terpikirlah pokoknya !. Aku kalo disuruh nunggu atau kau butuh usaha yang lebih keras, aku gak keberatan. Aku bersedia aja. Malah aku senang, karena setidaknya masi ada bangku di hatimu itu. Setidaknya, itulah yang muncul di otakku. Tapi kalo kau malah acuh tak acuh macam lampu merah, pening aku. Karena kalo soal berjuang, semua cowok kuras...

Aku di sini

Hai kamu, apa kabar ? Aku harap kamu baik-baik yah, ntah dengan yang baru ataupun kamu masih sendiri sama kaya aku hehe. Lagian kan, cuman aku yang berharap kita sama-sama lagi, yakan ? Yaudah gapapa, itu memang harus aku tanggung sendiri. Oh iya, aku baik-baik aja kok , ya manatau kamu sempat terpikir keadaan aku. Kata orang, apa yang sudah pergi jika kembali lagi pasti tak akan sama. Aku sangat setuju. Aku sudah berubah. Aku sudah berubah sejak kita berpisah. Aku gamau lagi sama kayak dulu, menyia-nyiakan sesuatu yang seharusnya aku jaga. Aku juga udah gamau berpikir singkat lagi. Aku sudah mulai berfikir positif tentang apa yang sudah aku alami. Kecerobohan yang sering aku lakuin juga udah mulai berkurang. Seperti pas kamu butuh waktu serius aku malah becanda, padahal tujuan aku biar kamu lebih santai menghadapi masalah yang memang aku tahu itu berat. Aku sudah belajar untuk lebih serius jika kamu mau aku serius, aku udah bisa bedain saat serius dan saat bercanda. Aku juga udah me...

Nama yang sama

"Eh kamu, kok bersin mulu ? Aku kan udah berusaha ngangetin kamu dengan jaket aku". "Haha iya nih, gatau kenapa." "Yodah sini agak deket ke pundak aku aja." "Loh kok malah dicubit sih ?" "Hehe gapapa manatau aku ga kedinginan lagi." "Sorry ya aku kelamaan tadi ngurusnya jadi kehujanan deh." "Yee romantis itu ga akan terjadi kalo kamu ga kelamaan tadi." "Apaan romantis, kamunya udah bersin gitu."  "Ini sih akunya yang gak kuat,gapapa kok." "Gapapa apaan, tu ingusnya aja udah meler gitu, sini aku bersihin." "Hehe udahh kok, aku bersihin pake jaket kamu aja, jangan pake tangan kamu gitu." "Haha lucu juga di pangkalan ojek kita berteduh, kamu pilek, di seberang mamang gorengan, kurang apa coba."  "Kurangg selfie dong hihi, sini kamera kamu," "Ohh iyaa, ternyata pilek bukan penghadang untuk ga ingat buat selfie." "Iya dong, sini kebahu aku satu, du...

Penikmat

Ternyata jadi penikmat itu enak, bisa sesuka kita melihat yang ingin kita lihat. Nah, itu yang sedang kulakukan sekarang. Aku bukan lagi ‘pemeran utama’ bagimu. Aku turun pangkat menjadi ‘penikmat’. Masa-masa di mana aku jadi pemeran utama sudah selesai. Masa di mana kita saling mempengaruhi agar jadi lebih baik. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah sekian lama aku jadi ‘penikmat’, aku sadar aku harus berbuat sesuatu. Akhirnya, sekarang aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih untuk duduk di kursiku sebagai ‘penikmat’. Aku tidak ingin lagi mengganggu kehidupanmu yang begitu indah. Aku lebih memilih di sini untuk melihat dan mengawasimu. Aku tahu ini pasti akan sangat membosankan. Namun aku bersyukur, aku masih memilih untuk menjalaninya. Tugas seorang penikmat yang utama itu harus ada saat dibutuhkan. Aku siap untuk kamu, kapanpun kamu lagi sedih,senang,marah,kesal dan ekspresi lain yang mungkin kamu butuh aku untuk meluapkannya. Aku siap menjadi pendengar semua kisa...

'Rasa'lahan

Malam gelap aku bilang indah, kenapa ? karena aku tahu ada bintang yang menghiasinya. Perasaan aku sedih tapi aku tahu aku masih bisa senyum, kenapa ? karena aku tahu masih banyak alasan untuk tersenyum. Sama kayak kipas, selalu menggeleng, tapi ada makna di balik itu. Dia harus membuat orang di sekitar dia nyaman.  Rasa sakit itu bisa di bilang indah jika kita tahu makna dibalik itu semua. Bahkan bisa memperbaiki sebuah hubungan. Cara awal mengangani kesedihan yang datang selalu salah membuat rasa sedih itu semakin berlarut. Sehingga bukannya mencari solusi, malah menikmati dan makin terbawa ke dalamnya.   Kita berharap satu, namun seperti siang dan malam. Kita berharap bersama, namun seperti air dan api. Bukan salah kita , hanya soal waktu. Aku memutar jauh untuk mencari langit yang cerah, yang berteman angin dan memanja angan. Begitulah mungkin yang diingankan cinta.  Jalani arus waktu dan bukalah pintu perasaan. Biarkan rasamu menemani dan suara hatim...

sikit aja

Ketika kita harus menjauh di saat kita benar-benar sayang itu sakit. Sakitnya akan terasa lebih saat orang yang akan kita jauhi juga tidak ingin. Sampai tak sadar, kami menjatuhkan airmata. Aku pernah merasa begitu. Di saat kami berdua merasa sangat dekat dan saling menyangi, jarak datang merampasnya begitu saja. Awalnya aku kuat, sangat kuat hingga tak ada airmata saat aku berpisah dengannya.  Namun aku lupa akan  satu hal yaitu, waktu. Tak habis dengan jarak, waktu mulai menghantamku  untuk merusaknya. Aku yang saat itu yakin akan menang mulai ragu. Aku mulai merasa tidak mampu untuk melakukan hal yang seharusnya aku lakukan. Aku bimbang, apakah cukup dengan doa dan terus mengabarinya itu cukup ? .  Aku bingung .

bintang kecil :))

Kita sempat berbagi kisah yang berujung dengan kasih. Menyapa setia perasaan yang kadang berakhir sakit. Kita pernah menghadapi luka bersama yang berakhir dengan tawa, dan menyeka airmata untuk menimbulkan senyuman. Yang terpenting, kita pernah saling percaya . Aku dulu pernah menjadi pelengkapmu, yang berdiri paling depan untuk menghapus air matamu. Yang setia berjuang hanya untuk senyumanmu.Telingaku juga setia mendengar kisah-kisah indah hidupmu. Dan yang paling bahagia, aku senang sempat menjadi alasan dari senyumanmu. Tapi sekarang , matahari dari duniaku sudah menemukan tempat peraduannya yang baru. Tugasku menjaga sinarnya tetap terang sudah selesai. Aku bahagia sempat menjadi orang untuk kau bagikan kisah hidupmu. Meski sekarang, kisah yang dulu kini berbalik menjadi hisak. Bukan hisak yang sementara, namun hisak yang tak bisa diseka, dibalut dengan sekedar tawa, dan akan selalu membekas. Aku bahagia jika kau bahagia, walau bukan bersamaku. Telingaku juga akan ...