Ternyata jadi penikmat itu enak, bisa sesuka kita melihat yang ingin kita lihat. Nah, itu yang sedang kulakukan sekarang. Aku bukan lagi ‘pemeran utama’ bagimu. Aku turun pangkat menjadi ‘penikmat’. Masa-masa di mana aku jadi pemeran utama sudah selesai. Masa di mana kita saling mempengaruhi agar jadi lebih baik.
Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah sekian lama aku jadi ‘penikmat’, aku sadar aku harus berbuat sesuatu. Akhirnya, sekarang aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih untuk duduk di kursiku sebagai ‘penikmat’. Aku tidak ingin lagi mengganggu kehidupanmu yang begitu indah. Aku lebih memilih di sini untuk melihat dan mengawasimu. Aku tahu ini pasti akan sangat membosankan. Namun aku bersyukur, aku masih memilih untuk menjalaninya.
Tugas seorang penikmat yang utama itu harus ada saat dibutuhkan. Aku siap untuk kamu, kapanpun kamu lagi sedih,senang,marah,kesal dan ekspresi lain yang mungkin kamu butuh aku untuk meluapkannya. Aku siap menjadi pendengar semua kisah sedih dan senangmu. Aku siap jadi sekedar tempat persinggahanmu dikala kamu letih atau pikiranmu jenuh. Aku juga bisa jadi saputangan untuk semua air mata serta keringatmu. Dan yang paling penting, aku siap jadi ‘pemeran utama’ lagi .
Begitulah tugas seorang penikmat. Ini sangat berat, makanya jarang orang yang mau berada di posisi ini dengan memilih pergi jauh dan menjadi pemeran utama bagi orang lain lagi. Namun aku ? aku masih cukup kuat untuk jadi ‘penikmat’ untukmu.
Sebagai seorang penikmat, yang aku bisa lakukan adalah menjaga kursiku tetap bersih. Dan aku juga harus menjaga mataku agar tidak rabun saat memperhatikanmu. Jika pun aku lalai, aku yakin kamu pasti punya orang lain yang bisa membantu kamu. Jadi aku tak perlu khawatir jika kamu kesepian.
Jika aku sudah melihat kembali senyum dan tawamu, itu artinya tugasku sebagai penikmat sudah selesai. Dan jika sudah begitu, maka aku akan kembali lagi ke kursiku dan melakukan tugasku.
Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah sekian lama aku jadi ‘penikmat’, aku sadar aku harus berbuat sesuatu. Akhirnya, sekarang aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih untuk duduk di kursiku sebagai ‘penikmat’. Aku tidak ingin lagi mengganggu kehidupanmu yang begitu indah. Aku lebih memilih di sini untuk melihat dan mengawasimu. Aku tahu ini pasti akan sangat membosankan. Namun aku bersyukur, aku masih memilih untuk menjalaninya.
Tugas seorang penikmat yang utama itu harus ada saat dibutuhkan. Aku siap untuk kamu, kapanpun kamu lagi sedih,senang,marah,kesal dan ekspresi lain yang mungkin kamu butuh aku untuk meluapkannya. Aku siap menjadi pendengar semua kisah sedih dan senangmu. Aku siap jadi sekedar tempat persinggahanmu dikala kamu letih atau pikiranmu jenuh. Aku juga bisa jadi saputangan untuk semua air mata serta keringatmu. Dan yang paling penting, aku siap jadi ‘pemeran utama’ lagi .
Begitulah tugas seorang penikmat. Ini sangat berat, makanya jarang orang yang mau berada di posisi ini dengan memilih pergi jauh dan menjadi pemeran utama bagi orang lain lagi. Namun aku ? aku masih cukup kuat untuk jadi ‘penikmat’ untukmu.
Sebagai seorang penikmat, yang aku bisa lakukan adalah menjaga kursiku tetap bersih. Dan aku juga harus menjaga mataku agar tidak rabun saat memperhatikanmu. Jika pun aku lalai, aku yakin kamu pasti punya orang lain yang bisa membantu kamu. Jadi aku tak perlu khawatir jika kamu kesepian.
Jika aku sudah melihat kembali senyum dan tawamu, itu artinya tugasku sebagai penikmat sudah selesai. Dan jika sudah begitu, maka aku akan kembali lagi ke kursiku dan melakukan tugasku.
Komentar
Posting Komentar