Langsung ke konten utama

Penikmat

Ternyata jadi penikmat itu enak, bisa sesuka kita melihat yang ingin kita lihat. Nah, itu yang sedang kulakukan sekarang. Aku bukan lagi ‘pemeran utama’ bagimu. Aku turun pangkat menjadi ‘penikmat’. Masa-masa di mana aku jadi pemeran utama sudah selesai. Masa di mana kita saling mempengaruhi agar jadi lebih baik.

Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah sekian lama aku jadi ‘penikmat’, aku sadar aku harus berbuat sesuatu. Akhirnya, sekarang aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih untuk duduk di kursiku sebagai ‘penikmat’. Aku tidak ingin lagi mengganggu kehidupanmu yang begitu indah. Aku lebih memilih di sini untuk melihat dan mengawasimu. Aku tahu ini pasti akan sangat membosankan. Namun aku bersyukur, aku masih memilih untuk menjalaninya.

Tugas seorang penikmat yang utama itu harus ada saat dibutuhkan. Aku siap untuk kamu, kapanpun kamu lagi sedih,senang,marah,kesal dan ekspresi lain yang mungkin kamu butuh aku untuk meluapkannya. Aku siap menjadi pendengar semua kisah sedih dan senangmu. Aku siap jadi sekedar tempat persinggahanmu dikala kamu letih atau pikiranmu jenuh. Aku juga bisa jadi saputangan untuk semua air mata serta keringatmu. Dan yang paling penting, aku siap jadi ‘pemeran utama’ lagi .

Begitulah tugas seorang penikmat. Ini sangat berat, makanya jarang orang yang mau berada di posisi ini dengan memilih pergi jauh dan menjadi pemeran utama bagi orang lain lagi. Namun aku ? aku masih cukup kuat untuk jadi ‘penikmat’ untukmu.

Sebagai seorang penikmat, yang aku bisa lakukan adalah menjaga kursiku tetap bersih. Dan aku juga harus menjaga mataku agar tidak rabun saat memperhatikanmu. Jika pun aku lalai, aku yakin kamu pasti punya orang lain yang bisa membantu kamu. Jadi aku tak perlu khawatir jika kamu kesepian.


Jika aku sudah melihat kembali senyum dan tawamu, itu artinya tugasku sebagai penikmat sudah selesai. Dan jika sudah begitu, maka aku akan kembali lagi ke kursiku dan melakukan tugasku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...