Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.
Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti
‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh,
ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa?
karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita
termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku
ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut
merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ?
Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ?
fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita .
Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan
suatu ‘dudukan’ seperti ini?
Kalau kita renungkan kembali, kita sudah diberikan indra
untuk komunikasi, yaitu mulut. Agar
lebih sempurna, suara juga diciptakan agar kita bisa memahami satu sama lain.
Harusnya udah cukup kan?
Entah dari sudut pandang mana, Tuhan menciptakan perasaan. Apa yang Beliau rasakan saat itu ? Apa Ia sedang melihat ke neraka ? atau dia sedang merasakan kedamaian surga ? Apa yang berkecamuk di pikiran-Nya ? Apakah Ia sedang terjepit antara menghukum dan mengasihi ? Apakah Ia dilanda kebimbangan ? Ia mungkin tahu akan dikhianati oleh manusia jika menciptakan ini, namun Ia lebih memilih “berharap” ?
Hal aneh yang tidak tahu keberadaannya dimana, namun dapat
kita rasakan. Tidak berbentuk seperti tubuh tapi berharga seperti jantung.
Komentar
Posting Komentar