22.34
Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya.
Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.
Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang.
Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak lagi memanjakan diri dengan harapan dan cinta. Jika cambuk itu lebih nyata, maka aku sangat berterimakasih. Aku butuh kesunyian ini. Ini adalah bahan bakar untuk jiwaku. Di setiap cengkramannya, aku merasakan kehangatan. Pikiranku berbisik lembut sekedar berkata, kau harus berdansa. Mari sambut dia, keluarkan versi terbaikmu saat kau menari di atas angan palsumu. Kesunyian ini adalah nona manis itu, yang membantumu merajut. Tidak perih, lihatlah dirimu,kau sudah baik dengan mata birumu.
Ini adalah awal perjalananmu menuju kesunyian. Nikmati lembutnya bisikan kesendirian itu. Rasakan nada dan melodi yang keluar, karena itu akan menemanimu selama perjalanan. Akan kau temui petunjuk jalan dan jalan tol di depan. Itu semua mengarah kepada kepalsuan. Dirimu butuh kekuatan yang luar biasa. Biasakan berjalan tanpa cahaya, dingin, dan kelam. Mari menuju kekal dalam keterasingan.
Komentar
Posting Komentar