Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ?
Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian
mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci.
Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata
bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa
berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi,
bukan ?
Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus
dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ?
Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya,
kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup
menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban
tersebut. Itulah mengapa kita diberikan ‘perasaan’ agar kita tidak sesukanya bertindak.
Itu semua adalah hasil dari keputusan kita. Setiap keputusan
lahir dari pertimbangan. Mungkin dalam penerapan belum sempurna, namun itulah
hasil akhirnya. Perpisahan yang manis atau pahit. Jika manis, kita akan diiring
haru untuk melepasnya. Jika sebaliknya, berdoa dan berubahlah menjadi lebih
baik. Terkadang, kita harus menjadi luka bagi orang lain.
Itulah akhir dari cerita. Kita harus terus melanjutkan
perjalanan setapak ini. Mungkin istirahat juga harus kita lakukan sebelum memulai
lagi. Luka yang ada butuh waktu untuk dipahami.
Kisah yang baru juga layak untuk diperjuangkan. Ingat, pada
intinya kita itu hanya sendiri. Kita hanya ‘diberikan’ kesempatan untuk
berpasangan. Pasangan itu bisa berganti, namun keterasingan kita tak akan
pernah bisa. Jika berakhir, cepatlah bersyukur agar kau bisa mengakhiri keterasingan
ini dengan kisah yang baru.
Karena orang yang tepat mungkin tidak ditakdirkan oleh pertemuan singkat. Butuh beberapa patah hati lagi atau bisa saja besok.
Kita hanya perlu percaya!
Komentar
Posting Komentar