Langsung ke konten utama

Postingan

Pertanyaan yang berputar

Apakah puncak dari kehidupan itu adalah kesendirian ? Tapi pernyataan itu patah ketika Tuhan menciptakan makhluk yang sepadan. Berarti, apakah memang tujuan manusia itu hidup berdua ? Atau merasakan pasangan itu memang hanya untuk di dunia ? Jika memang untuk hidup berdua ketika di dunia, mengapa ada manusia yang bisa bertahan dengan kesepian? Apakah dia menjadikan kesendirian itu adalah pasangannya ? Jika memang, bagaimana dia menjadikan keheningan itu sebagai pasangan yang pas ? Ini menggunung di kepalaku sekarang. Aku selalu berpatokan pada akhir, yaitu kematian. Lantas, mengapa ada kesempatan untuk hidup berdua ? Bukankah itu mengingkari "persiapan" yang pada akhirnya hanya sendiri ? Itu membuat kita jadi lupa ada intinya. Benar, ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Ada hal yang sulit dijelaskan saat kita memutuskan untuk memberi ruang pada hal tersebut. Namun, bagaimana bisa itu tetap mendukung pada persiapan yang menjadi intinya ? Aku memahami luka sekaligus bahagia saat...
Postingan terbaru

Perempuan yang kedua

Di saat orang mulai meninggalkan blog, entah kenapa aku belum bisa. Kuakui aku memang belum konsisten, karena malas atau tidak terpikir untuk singgah ke sini. Ini hari kedua aku membuka blog. Seperti biasa niatnya tidak ada, namun seketika terlintas untuk kembali melihat diary lama ini. Ternyata rasanya masih sama, namun orang dan ceritanya yang berbeda. Jujur saja, aku cukup kaget ternyata isi blog ini bisa diisi oleh perempuan yang 'berbeda'. Awalnya memang ini adalah bentuk visual dari isi hati dan pikiran. Jadi aku ingin suara di kepala bisa sedikit berkurang. Perasaan adalah pelaku utamanya dan itu semua timbul karena satu perempuan saja.  Waktu aku ingin menulis soal wanita yang kedua, aku juga sedikit terdiam. Cukup terkejut karena ternyata aku bisa kembali "seperti ini" lagi. Mengingat dulu, aku sangat pesimis dan hampir tidak berpikir apa apa. Setelah selesai, kembali bekerja, melanjutkan hidup dan membaca sedikit buku filsafat sebagai tiang kehidupan.  Tapi ...

Americano

Aku sedang duduk di salah satu coffee shop . Menarik nafas sebentar, seakan mengumpulkan semua bunyi di kepala, dan menghembuskannya, berharap semua akan hilang dalam sekali hembusan. Sebagai manusia, aku sadar, kesalahan dan dosa selalu mengiringi kehidupan. Sebaik apapun aku hidup, seberapa kerasnya aku berpikir dan berusaha, pasti aku akan melakukannya. Bahkan itu menjadi "bunga" yang menghiasi jalan kehidupan.  Anehnya, tak perduli berapa kali pun aku berusaha, itu pasti akan selalu menghampiri. Tidak ada jalan pintas, jalan lain. Seberapa banyak pun aku melakukan, aku pasti kembali pada perasaan ini. Padahal ini jauh sudah kupersiapkan, jika dilakukan efeknya seperti ini. Sudah terprediksi, namun ? Lagi dan lagi, kesalahan dan dosa ini membuat diri rapuh. Contoh kecil, patah hati. Sudah sangat jelas, semua orang yang menjalin hubungan, pasti akan merasakan ini. Tidak perduli seberapa keras kita menjaga, seberapa romantis dan seringnya mengucap kata cinta, itu pasti akan ...

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme 2

  15.07.2025 14.31 Hari ini aku sudah menghubungi mantanku. Aku beranikan chat dia setelah aku putuskan dan aku blokir selama 2 bulan, kukira 2 minggu . Bisa gitu ya ? Dengan grogi aku chat mau bilang kalau aku ada ujian jadi kacab hari ini. Ini salah satu momen penting dalam hidupku. Aku tahu dia tu seneng kalau apa2 dia dikabarin, jadi aku coba kabarin la. Walaupun emang niat juga sih nanti pas mau ujian aku chat. Setelah di balas rupanya ujian aku diundur, kan bangke ? Aku udah ga tidur semalam karena grogi, udah rencana mau chat dia juga hari ini, malah ga jadi. Cuman gapapa sih, karena kita wajib berpikir positif yauda mungkin aku disuruh belajar lagi + memperbaiki hubungan dulu dengan dia, eakkk. Jujur, aku masih merasa bersalah dengan dia. Malam itu aku entah kenapa overthinking,   lagi persiapan ujian, ortu nanya kapan nikah, adekku masuk miss Indonesia. Fyi, di keluargaku, aku cowok sendiri dan aku yang diharapkan bisa sukses. Tapi sampai hari ini? Belum juga...

AKHIRNYA, AKU SAMPAI!

  Hari ini aku dengar mantanku sudah lebih baik. Responku sedih, sudah pasti. Aku melepasnya karena kekecewaanku pada malam itu. Aku merasa sudah berjuang agar bisa bertemu keluarganya. Tapi aku merasa dia sering menunda sehingga membuatku berpikir tidak ada niat serius. Di tengah kesedihanku ini, aku mengambil waktu merenung. Kehilangan memang sudah jadi bagian dari diiriku. Aku begitu akrab dengan kesepian. Di titik ini, aku sudah merasa mencapai puncak sebagai manusia, yaitu menerima kesendirian. Itulah kodrat yang seharusnya. Tidak ada apapun di dunia ini yang memang benar benar milikku selain diriku sendiri. Cepat atau lambat semua orang akan pergi. Aku menemukan bahwa semakin hari, aku semakin baik memahami ini. Dulu aku ingat begitu tersiksanya aku berdamai dengan kesepian. Aku menangis setiap malam, bermenung sendiri hingga kembali nangis. Aku masih menganggap ini adalah hukuman yang aku terima akibat dosaku di masa lalu. Untungnya sekarang aku menemukan imanku bert...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...