Apakah puncak dari kehidupan itu adalah kesendirian ? Tapi pernyataan itu patah ketika Tuhan menciptakan makhluk yang sepadan. Berarti, apakah memang tujuan manusia itu hidup berdua ? Atau merasakan pasangan itu memang hanya untuk di dunia ? Jika memang untuk hidup berdua ketika di dunia, mengapa ada manusia yang bisa bertahan dengan kesepian? Apakah dia menjadikan kesendirian itu adalah pasangannya ? Jika memang, bagaimana dia menjadikan keheningan itu sebagai pasangan yang pas ? Ini menggunung di kepalaku sekarang. Aku selalu berpatokan pada akhir, yaitu kematian. Lantas, mengapa ada kesempatan untuk hidup berdua ? Bukankah itu mengingkari "persiapan" yang pada akhirnya hanya sendiri ? Itu membuat kita jadi lupa ada intinya. Benar, ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Ada hal yang sulit dijelaskan saat kita memutuskan untuk memberi ruang pada hal tersebut. Namun, bagaimana bisa itu tetap mendukung pada persiapan yang menjadi intinya ? Aku memahami luka sekaligus bahagia saat...
Di saat orang mulai meninggalkan blog, entah kenapa aku belum bisa. Kuakui aku memang belum konsisten, karena malas atau tidak terpikir untuk singgah ke sini. Ini hari kedua aku membuka blog. Seperti biasa niatnya tidak ada, namun seketika terlintas untuk kembali melihat diary lama ini. Ternyata rasanya masih sama, namun orang dan ceritanya yang berbeda. Jujur saja, aku cukup kaget ternyata isi blog ini bisa diisi oleh perempuan yang 'berbeda'. Awalnya memang ini adalah bentuk visual dari isi hati dan pikiran. Jadi aku ingin suara di kepala bisa sedikit berkurang. Perasaan adalah pelaku utamanya dan itu semua timbul karena satu perempuan saja. Waktu aku ingin menulis soal wanita yang kedua, aku juga sedikit terdiam. Cukup terkejut karena ternyata aku bisa kembali "seperti ini" lagi. Mengingat dulu, aku sangat pesimis dan hampir tidak berpikir apa apa. Setelah selesai, kembali bekerja, melanjutkan hidup dan membaca sedikit buku filsafat sebagai tiang kehidupan. Tapi ...