Langsung ke konten utama

Perempuan yang kedua

Di saat orang mulai meninggalkan blog, entah kenapa aku belum bisa. Kuakui aku memang belum konsisten, karena malas atau tidak terpikir untuk singgah ke sini. Ini hari kedua aku membuka blog. Seperti biasa niatnya tidak ada, namun seketika terlintas untuk kembali melihat diary lama ini. Ternyata rasanya masih sama, namun orang dan ceritanya yang berbeda.

Jujur saja, aku cukup kaget ternyata isi blog ini bisa diisi oleh perempuan yang 'berbeda'. Awalnya memang ini adalah bentuk visual dari isi hati dan pikiran. Jadi aku ingin suara di kepala bisa sedikit berkurang. Perasaan adalah pelaku utamanya dan itu semua timbul karena satu perempuan saja. 

Waktu aku ingin menulis soal wanita yang kedua, aku juga sedikit terdiam. Cukup terkejut karena ternyata aku bisa kembali "seperti ini" lagi. Mengingat dulu, aku sangat pesimis dan hampir tidak berpikir apa apa. Setelah selesai, kembali bekerja, melanjutkan hidup dan membaca sedikit buku filsafat sebagai tiang kehidupan. 

Tapi aku tidak mau berbohong pada diri sendiri. Dia memang layak untuk dituliskan. Segala tentangnya harus aku ceritakan di sini. Bagaimana kerennya dia menarik aku dari lubang kegelapan, ketulusannya ketika kami bersama dan ide idenya yang berhasil membuat aku keluar di hari sabtu-minggu. Hal yang paling penting, dia berhasil 'menutup' luka itu dengan baik. Hingga itu yang membuat aku akhirnya relate dengan kata kata "aku jatuh cinta di saat aku tidak siap untuk itu".

Namun, semuanya sudah selesai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...