Apakah puncak dari kehidupan itu adalah kesendirian ? Tapi pernyataan itu patah ketika Tuhan menciptakan makhluk yang sepadan. Berarti, apakah memang tujuan manusia itu hidup berdua ? Atau merasakan pasangan itu memang hanya untuk di dunia ?
Jika memang untuk hidup berdua ketika di dunia, mengapa ada manusia yang bisa bertahan dengan kesepian? Apakah dia menjadikan kesendirian itu adalah pasangannya ? Jika memang, bagaimana dia menjadikan keheningan itu sebagai pasangan yang pas ?
Ini menggunung di kepalaku sekarang. Aku selalu berpatokan pada akhir, yaitu kematian. Lantas, mengapa ada kesempatan untuk hidup berdua ? Bukankah itu mengingkari "persiapan" yang pada akhirnya hanya sendiri ? Itu membuat kita jadi lupa ada intinya.
Benar, ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Ada hal yang sulit dijelaskan saat kita memutuskan untuk memberi ruang pada hal tersebut. Namun, bagaimana bisa itu tetap mendukung pada persiapan yang menjadi intinya ? Aku memahami luka sekaligus bahagia saat melakukannya, namun saat mengingat inti, aku jadi bertanya, mengapa aku harus paham akan hal itu ? Aku hanya punya diriku pada saat terakhir nanti, bagaimana aku bisa belajar dari hal itu ?
Kehidupan menciptakan banyak buah untuk dipetik. Selain untuk rasa, mungkin untuk mensyukuri ciptaan-Nya. Karena ia membuat perasaan, dengan landasan itu, kita bisa merasakan kebahagiaan. Anehnya, itu membuat kita lupa pada inti. Lalu timbul pertanyaan, mengapa untuk belajar sendiri selalu dikaitkan dengan luka dan hampa ? Sedangkan pembelajaran yang diberikan itu adalah kebahagiaan saat berpasangan. Kenapa fokusnya ke arah sana ?
Komentar
Posting Komentar