Langsung ke konten utama

Pertanyaan yang berputar

Apakah puncak dari kehidupan itu adalah kesendirian ? Tapi pernyataan itu patah ketika Tuhan menciptakan makhluk yang sepadan. Berarti, apakah memang tujuan manusia itu hidup berdua ? Atau merasakan pasangan itu memang hanya untuk di dunia ?

Jika memang untuk hidup berdua ketika di dunia, mengapa ada manusia yang bisa bertahan dengan kesepian? Apakah dia menjadikan kesendirian itu adalah pasangannya ? Jika memang, bagaimana dia menjadikan keheningan itu sebagai pasangan yang pas ?

Ini menggunung di kepalaku sekarang. Aku selalu berpatokan pada akhir, yaitu kematian. Lantas, mengapa ada kesempatan untuk hidup berdua ? Bukankah itu mengingkari "persiapan" yang pada akhirnya hanya sendiri ? Itu membuat kita jadi lupa ada intinya.

Benar, ada kenikmatan yang bisa dirasakan. Ada hal yang sulit dijelaskan saat kita memutuskan untuk memberi ruang pada hal tersebut. Namun, bagaimana bisa itu tetap mendukung pada persiapan yang menjadi intinya ? Aku memahami luka sekaligus bahagia saat melakukannya, namun saat mengingat inti, aku jadi bertanya, mengapa aku harus paham akan hal itu ? Aku hanya punya diriku pada saat terakhir nanti, bagaimana aku bisa belajar dari hal itu ?

Kehidupan menciptakan banyak buah untuk dipetik. Selain untuk rasa, mungkin untuk mensyukuri ciptaan-Nya. Karena ia membuat perasaan, dengan landasan itu, kita bisa merasakan kebahagiaan. Anehnya, itu membuat kita lupa pada inti. Lalu timbul pertanyaan, mengapa untuk belajar sendiri selalu dikaitkan dengan luka dan hampa ? Sedangkan pembelajaran yang diberikan itu adalah kebahagiaan saat berpasangan. Kenapa fokusnya ke arah sana ?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...