Langsung ke konten utama

Americano

Aku sedang duduk di salah satu coffee shop . Menarik nafas sebentar, seakan mengumpulkan semua bunyi di kepala, dan menghembuskannya, berharap semua akan hilang dalam sekali hembusan. Sebagai manusia, aku sadar, kesalahan dan dosa selalu mengiringi kehidupan. Sebaik apapun aku hidup, seberapa kerasnya aku berpikir dan berusaha, pasti aku akan melakukannya. Bahkan itu menjadi "bunga" yang menghiasi jalan kehidupan. 

Anehnya, tak perduli berapa kali pun aku berusaha, itu pasti akan selalu menghampiri. Tidak ada jalan pintas, jalan lain. Seberapa banyak pun aku melakukan, aku pasti kembali pada perasaan ini. Padahal ini jauh sudah kupersiapkan, jika dilakukan efeknya seperti ini. Sudah terprediksi, namun ? Lagi dan lagi, kesalahan dan dosa ini membuat diri rapuh.

Contoh kecil, patah hati. Sudah sangat jelas, semua orang yang menjalin hubungan, pasti akan merasakan ini. Tidak perduli seberapa keras kita menjaga, seberapa romantis dan seringnya mengucap kata cinta, itu pasti akan selalu membayangi. Walaupun awalnya sangat indah, begitu menimang jiwa dengan nyaman hingga banyak orang berani berkata dunia milik mereka yang jatuh cinta. Jika sudah saatnya patah hati, maka tidak ada yang bisa menghalangi.

Aku ingat saat saat itu, menatap pasang matanya, begitu tenang namun tegas. Ia seakan membawa penghiburan yang aku butuh. Ia memperkenalkan jenis kebahagiaan baru padaku, melalu senyumnya. Aku sempat percaya bahwa dunia tidak begitu buruk. Setidaknya saat kami bertemu. Tidak lebih dari 3 detik saat itu. Tapi aku sudah bisa melihat jelas sambil menggumam 

"ini kayanya berbeda"

~~~~~~~~ !~~~~~~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...