Hari ini aku dengar mantanku sudah lebih baik.
Responku sedih, sudah pasti. Aku melepasnya karena kekecewaanku
pada malam itu. Aku merasa sudah berjuang agar bisa bertemu keluarganya. Tapi aku
merasa dia sering menunda sehingga membuatku berpikir tidak ada niat serius.
Di tengah kesedihanku ini, aku mengambil waktu merenung.
Kehilangan memang sudah jadi bagian dari diiriku. Aku begitu akrab dengan kesepian.
Di titik ini, aku sudah merasa mencapai puncak sebagai manusia, yaitu menerima
kesendirian. Itulah kodrat yang seharusnya. Tidak ada apapun di dunia ini yang
memang benar benar milikku selain diriku sendiri. Cepat atau lambat semua orang
akan pergi.
Aku menemukan bahwa semakin hari, aku semakin baik memahami
ini. Dulu aku ingat begitu tersiksanya aku berdamai dengan kesepian. Aku
menangis setiap malam, bermenung sendiri hingga kembali nangis. Aku masih menganggap
ini adalah hukuman yang aku terima akibat dosaku di masa lalu.
Untungnya sekarang aku menemukan imanku bertumbuh. Aku
merasa, kesepianku ini adalah jalan untuk menuju Tuhan. Dia ingin melihatku
dekat pada-Nya. Caranya mungkin menyakitkan tapi hasilnya ? aku bisa punya
kepekaan seperti ini. Tuhan tau aku mampu menghadapi ini. Aku bukan terpuruk,
tapi aku sedang bertumbuh. Aku juga heran darimana kebesaran hati ini? Di saat
aku bisa berpikir untuk melampiaskan ke hal hal negatif namun aku masih konsisten
bahwa ini jalan-Nya.
Di tengah perjalanan memahami hidup ini, aku sekarang lebih
stabil. Apa yang sudah ada saat ini, ini adalah kehendak-Nya. Jika yang tidak
ada, itu belum diizinkan atau memang bukan untukku. Aku beroda setiap mengambil
keputusan, karena aku sadar keterbatasanku sebagai manusia. Namun ketika aku
sudah berdoa, sekalipun aku sedih, aku kuat.
Rasa sakit ini adalah tangga yang sedang kususun. Hal ini perlahan
membuat aku lepas dari keinginan duniawi. Landasannya adalah, dunia adalah
keindahan dari ciptaan-Nya. Taman bermain pasti punya waktu tutup kan ? Sama
halnya juga kehidupan, pasti ada awal dan akhir. Selama 28 tahun aku hidup, aku
selalu memikirkan dunia. Bagaimana aku hidup, apa yang sudah kucapai, masa
depanku nanti gimana .
Sekarang aku hanya menjalankan hidup seperti berjalan di
sebuah taman. Aku hanya ingin menikmati perjalanan dengan memandang bunga bunga
yang indah, angin semilir yang sejuk dan suasana yang asri. Tujuanku adalah keluar
taman ini dengan baik. Ia memberiku kesempatan untuk mencintai-Nya dengan
kehendak bebas, seakan aku ingin membuktikan bahwa kehendak bebasku ini tidak
akan kusalahgunakan. Aku ingin benar
benar membuktikan bahwasannya aku juga sama, sekaligus menjadi permintaan maaf
atas kesempatan yang sudah kusia siakan.
Tentu dalam menikmati taman, aku juga berharap tidak hujan
agar aku bisa benar2 menikmati suasanya. Supaya bajuku juga tidak basah dan
penampilanku tetap bisa rapi. Itu adalah mimpi dan harapan. Dalam hidup ini,
aku juga punya. Pekerjaanku lancar, aku bisa bermanfaat bagi orang dan bisa memahami
orang lain lebih baik lagi.
Lalu bagaimana dengan perasaan ?
Itu salah satu yang tidak akan kupaksakan lagi. Ketika aku
berusaha bertumbuh dalam iman, hal itu perlahan juga berkurang. Perasan itu ada
namun bukan lagi prioritas. Aku mulai memahami mengapa Pastor tidak menikah dan
bisa tetap menjalani kehidupan. Karena itu, dia sudah penuh oleh cinta kasih
Tuhan. Perasaaan itu jika memang dibiarkan, bisa mengambil seluruh tempat yang
ada di hati. Bahkan rasanya mungkin lebih baik. Aku sudah mulai memahami hal
tersebut. Ketika aku kesepian, benar benar tidak ada yang menghubungi, aku
tidak lagi berusaha mencari. Di awal aku sakit, aku mengalihkan dengan bermain
hp, scroll tiktok. Namun akhirnya sampai pada momen, bukan ini caranya. Apa
lagi yang perlu kucari jika Tuhan sudah memenuhi semuanya? Adapun orang yang dikirim,
itu juga dari-Nya.
Aku masih bingung harus senang atau sedih karena sampai pada
tahap ini. Jika senang mungkin karena aku berhasil mencapai titik yang menenangkan.
Aku merasa sedang di puncak pegunungan. Setelah mendaki dengan rasa sakit, Lelah
dan sedih karena terkilir dan jatuh, aku bisa sampai puncak. Ini ternyata
pemandangan yang indah itu. Walaupun sempat pesimis aku tidak bisa merasakan apapun,
ternyata aku salah.
Jika sedih, mungkin aku tidak bisa membayangkan apa yang
sudah aku lalui. Bagaimana gelap dan sakitnya luka akibat dibentuk kehidupan.
Kenapa harus aku yang mersakan ini dan kenapa tidak bisa langsung bahagia. Aku melihat
aliran Sungai deras yang ternyata adalah airmataku yang jatuh saat mendaki. Bagaimana
acak2an dan hancurnya aku saat ini. Aku sampai merasa kasihan terhadap diriku
sendiri. Kenapa kebahagiaan yang katanya sederhana itu, ternyata tidak
sederhana. Lihat aku? Aku baru ini merasakan ketenangan, dan lihat apa yang
sudah aku lalui. Bagian mana yang terlihat sederhana ?
Kini, aku ingin menikmati pemandangan yang ada di hadapanku.
Sudah banyak luka dan sakit yang kurasakan hingga sampai saat ini. Aku ingin
merayakan ini bersama-Nya. Aku ingin istirahat di pelukan-Nya. Aku ingin
berteriak di hadapan-Nya sambil menangis. Mungkin aku akan tersungkur di
hadapan-Nya . Setelah itu aku akan tersenyum dengan bahagia, seakan membuktikan
bahwa aku bisa kan ? Mungkin belum sesuai harapan-Nya, tapi aku bisa kan ? Aku
tidak ingin Dia terlalu kecewa, karena sudah banyak sekali kekecewaan yang
sudah kubuat.
Lalu aku berharap bisa disini selama-Nya. Tidak ada lagi tawa
dan sedih, yang ada hanya ketenangan.
Komentar
Posting Komentar