Langsung ke konten utama

AKHIRNYA, AKU SAMPAI!

 

Hari ini aku dengar mantanku sudah lebih baik.

Responku sedih, sudah pasti. Aku melepasnya karena kekecewaanku pada malam itu. Aku merasa sudah berjuang agar bisa bertemu keluarganya. Tapi aku merasa dia sering menunda sehingga membuatku berpikir tidak ada niat serius.

Di tengah kesedihanku ini, aku mengambil waktu merenung. Kehilangan memang sudah jadi bagian dari diiriku. Aku begitu akrab dengan kesepian. Di titik ini, aku sudah merasa mencapai puncak sebagai manusia, yaitu menerima kesendirian. Itulah kodrat yang seharusnya. Tidak ada apapun di dunia ini yang memang benar benar milikku selain diriku sendiri. Cepat atau lambat semua orang akan pergi.

Aku menemukan bahwa semakin hari, aku semakin baik memahami ini. Dulu aku ingat begitu tersiksanya aku berdamai dengan kesepian. Aku menangis setiap malam, bermenung sendiri hingga kembali nangis. Aku masih menganggap ini adalah hukuman yang aku terima akibat dosaku di masa lalu.

Untungnya sekarang aku menemukan imanku bertumbuh. Aku merasa, kesepianku ini adalah jalan untuk menuju Tuhan. Dia ingin melihatku dekat pada-Nya. Caranya mungkin menyakitkan tapi hasilnya ? aku bisa punya kepekaan seperti ini. Tuhan tau aku mampu menghadapi ini. Aku bukan terpuruk, tapi aku sedang bertumbuh. Aku juga heran darimana kebesaran hati ini? Di saat aku bisa berpikir untuk melampiaskan ke hal hal negatif namun aku masih konsisten bahwa ini jalan-Nya.

Di tengah perjalanan memahami hidup ini, aku sekarang lebih stabil. Apa yang sudah ada saat ini, ini adalah kehendak-Nya. Jika yang tidak ada, itu belum diizinkan atau memang bukan untukku. Aku beroda setiap mengambil keputusan, karena aku sadar keterbatasanku sebagai manusia. Namun ketika aku sudah berdoa, sekalipun aku sedih, aku kuat.

Rasa sakit ini adalah tangga yang sedang kususun. Hal ini perlahan membuat aku lepas dari keinginan duniawi. Landasannya adalah, dunia adalah keindahan dari ciptaan-Nya. Taman bermain pasti punya waktu tutup kan ? Sama halnya juga kehidupan, pasti ada awal dan akhir. Selama 28 tahun aku hidup, aku selalu memikirkan dunia. Bagaimana aku hidup, apa yang sudah kucapai, masa depanku nanti gimana .

Sekarang aku hanya menjalankan hidup seperti berjalan di sebuah taman. Aku hanya ingin menikmati perjalanan dengan memandang bunga bunga yang indah, angin semilir yang sejuk dan suasana yang asri. Tujuanku adalah keluar taman ini dengan baik. Ia memberiku kesempatan untuk mencintai-Nya dengan kehendak bebas, seakan aku ingin membuktikan bahwa kehendak bebasku ini tidak akan kusalahgunakan.  Aku ingin benar benar membuktikan bahwasannya aku juga sama, sekaligus menjadi permintaan maaf atas kesempatan yang sudah kusia siakan.

Tentu dalam menikmati taman, aku juga berharap tidak hujan agar aku bisa benar2 menikmati suasanya. Supaya bajuku juga tidak basah dan penampilanku tetap bisa rapi. Itu adalah mimpi dan harapan. Dalam hidup ini, aku juga punya. Pekerjaanku lancar, aku bisa bermanfaat bagi orang dan bisa memahami orang lain lebih baik lagi.

Lalu bagaimana dengan perasaan ?

Itu salah satu yang tidak akan kupaksakan lagi. Ketika aku berusaha bertumbuh dalam iman, hal itu perlahan juga berkurang. Perasan itu ada namun bukan lagi prioritas. Aku mulai memahami mengapa Pastor tidak menikah dan bisa tetap menjalani kehidupan. Karena itu, dia sudah penuh oleh cinta kasih Tuhan. Perasaaan itu jika memang dibiarkan, bisa mengambil seluruh tempat yang ada di hati. Bahkan rasanya mungkin lebih baik. Aku sudah mulai memahami hal tersebut. Ketika aku kesepian, benar benar tidak ada yang menghubungi, aku tidak lagi berusaha mencari. Di awal aku sakit, aku mengalihkan dengan bermain hp, scroll tiktok. Namun akhirnya sampai pada momen, bukan ini caranya. Apa lagi yang perlu kucari jika Tuhan sudah memenuhi semuanya? Adapun orang yang dikirim, itu juga dari-Nya.

Aku masih bingung harus senang atau sedih karena sampai pada tahap ini. Jika senang mungkin karena aku berhasil mencapai titik yang menenangkan. Aku merasa sedang di puncak pegunungan. Setelah mendaki dengan rasa sakit, Lelah dan sedih karena terkilir dan jatuh, aku bisa sampai puncak. Ini ternyata pemandangan yang indah itu. Walaupun sempat pesimis aku tidak bisa merasakan apapun, ternyata aku salah.

Jika sedih, mungkin aku tidak bisa membayangkan apa yang sudah aku lalui. Bagaimana gelap dan sakitnya luka akibat dibentuk kehidupan. Kenapa harus aku yang mersakan ini dan kenapa tidak bisa langsung bahagia. Aku melihat aliran Sungai deras yang ternyata adalah airmataku yang jatuh saat mendaki. Bagaimana acak2an dan hancurnya aku saat ini. Aku sampai merasa kasihan terhadap diriku sendiri. Kenapa kebahagiaan yang katanya sederhana itu, ternyata tidak sederhana. Lihat aku? Aku baru ini merasakan ketenangan, dan lihat apa yang sudah aku lalui. Bagian mana yang terlihat sederhana ?

Kini, aku ingin menikmati pemandangan yang ada di hadapanku. Sudah banyak luka dan sakit yang kurasakan hingga sampai saat ini. Aku ingin merayakan ini bersama-Nya. Aku ingin istirahat di pelukan-Nya. Aku ingin berteriak di hadapan-Nya sambil menangis. Mungkin aku akan tersungkur di hadapan-Nya . Setelah itu aku akan tersenyum dengan bahagia, seakan membuktikan bahwa aku bisa kan ? Mungkin belum sesuai harapan-Nya, tapi aku bisa kan ? Aku tidak ingin Dia terlalu kecewa, karena sudah banyak sekali kekecewaan yang sudah kubuat.

Lalu aku berharap bisa disini selama-Nya. Tidak ada lagi tawa dan sedih, yang ada hanya ketenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...