Langsung ke konten utama

Part of Eirenisme 2

 

15.07.2025
14.31

Hari ini aku sudah menghubungi mantanku. Aku beranikan chat dia setelah aku putuskan dan aku blokir selama 2 bulan, kukira 2 minggu . Bisa gitu ya ?

Dengan grogi aku chat mau bilang kalau aku ada ujian jadi kacab hari ini. Ini salah satu momen penting dalam hidupku. Aku tahu dia tu seneng kalau apa2 dia dikabarin, jadi aku coba kabarin la. Walaupun emang niat juga sih nanti pas mau ujian aku chat.

Setelah di balas rupanya ujian aku diundur, kan bangke ? Aku udah ga tidur semalam karena grogi, udah rencana mau chat dia juga hari ini, malah ga jadi. Cuman gapapa sih, karena kita wajib berpikir positif yauda mungkin aku disuruh belajar lagi + memperbaiki hubungan dulu dengan dia, eakkk.

Jujur, aku masih merasa bersalah dengan dia. Malam itu aku entah kenapa overthinking,  lagi persiapan ujian, ortu nanya kapan nikah, adekku masuk miss Indonesia. Fyi, di keluargaku, aku cowok sendiri dan aku yang diharapkan bisa sukses. Tapi sampai hari ini? Belum juga.
Kakakku udah nikah, adekku nomor 3 udah berubah sikapnya dan udah ada pacar yang siap nikahin dia, tambah ke 4 ini masuk Indonesia. Jujur aku terpuruk kali.

Malam itu kami telponan, aku udah kesel sebenarnya karena dia tak kunjung ada kepastian. Aku paham kami beda agama, dia takut. Tapi dia ga pernah sekalipun update sama aku tentang keluarganya, padahal itulah yang selalu aku tunggu. Malam itu aku melampiaskann semuanya, aku merasa aku sendiri ajala biar fokus. Tiap malam aku mikirin ini capek.

RUPANYA ? NERAKA BROO

Aku mulai kehilangan akal sehatku, makan ga teratur, lebih teratur nangisku lagi daripada makan. Nangis tiap malam, makan tiap ingat aja. Aku sekarang makin kurus, mata sembab. Paling akwardnya adalah, pernah aku ke kantor mata sembab dibilang admin
“Capek kali bapak mikir ujian itu ya ampe ga tidur, sembab2 matanya ke kantor”

Ketemu deh coveran baru.

Jujur aku menyesal sudah berbuat seperti itu. Tapi aku juga bersyukur, konsisten menjalani masa keheningan ini. Aku rutin berdebat dengan Tuhan, apalagi kalau malam, gak abis abis. Habis sih kalau nangis closingnya haha.

Positifnya adalah

Part 2 nyusul 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...