Langsung ke konten utama

Apa Cerita VI

Halo ketua !

Apa kabar ? Semoga sehat dan bahagia ya. Itu ajala dulu kita buat pondasi. Aku disini juga bahagia, tapi ga sehat. Baru beserak aku tadi di jalan, ditabrak bocil. Lukanya dikit, move on nya yang lama. Becanda!
Terkilir aja di lutut sama betis sama punggung, pegal kali.

Hari ini bingung aku mau cerita apa. Karena banyak kali mau kuceritakan . Situasi sekarang hari Selasa 17 Juni 2025 pukul 20.43 WIB. Untuk soundtrack NDX full album hahaha. Lagi candu2nya aku sama lagu orang ini. Lagu batak absen la dulu ketua, soalnya hidupku butuh sedikit ea ea ea. Aku sekarang udah pindah dari Balige, dan sekarang di ? Duri, Riau .

Senang kali aku rasanya pas pindah dari Balige. Kayak keangkat gitu semua masalahku. Jujur aja, sejak berserak di Dolok Sanggul buat aku down kali, ngerasa capek kali ngejalani hidup. Siang malam aku doa mohon pertolongan, kadang duet sama air mata manatau makin cepat naiknya. Sakitnya itu, pulang jam 11 abis survei, gerimis, kedingingan karena suhu 18*C. Itu balek ke Balige sedih kali aku sumpah .

Aku bersyukur kali sama Tuhan karena pindah ini. Doaku akhirnya terjawab, walaupun lama. Inilah the real "Indah pada waktunya". Ga cepat emang tapi tetap dikabulkan dengan cara yang aku gak duga juga. Bukan cuma pindah, aku juga sempat ke Jakarta seminggu, nginap di Swiss Bell-In selama itu. Anjr kali kan ? Gak pernah selama hidupku nginap seminggu di hotel . Di Jakarta pula itu, kek apa rupanya yang buat aku bisa kekgitu? Itulah yang buat aku semakin bertumbuh juga dalam iman, ga perduli seberapa lama tapi kalau udah kunaikkan permohonan ke atas yauda tunggu waktu aja.

Tapi setelah 1 bulan perlahan kesedihan itu datang ....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...