Langsung ke konten utama

bintang kecil :))



Kita sempat berbagi kisah yang berujung dengan kasih. Menyapa setia perasaan yang kadang berakhir sakit. Kita pernah menghadapi luka bersama yang berakhir dengan tawa, dan menyeka airmata untuk menimbulkan senyuman. Yang terpenting, kita pernah saling percaya .

Aku dulu pernah menjadi pelengkapmu, yang berdiri paling depan untuk menghapus air matamu. Yang setia berjuang hanya untuk senyumanmu.Telingaku juga setia mendengar kisah-kisah indah hidupmu. Dan yang paling bahagia, aku senang sempat menjadi alasan dari senyumanmu.

Tapi sekarang , matahari dari duniaku sudah menemukan tempat peraduannya yang baru. Tugasku menjaga sinarnya tetap terang sudah selesai. Aku bahagia sempat menjadi orang untuk kau bagikan kisah hidupmu. Meski sekarang, kisah yang dulu kini berbalik menjadi hisak. Bukan hisak yang sementara, namun hisak yang tak bisa diseka, dibalut dengan sekedar tawa, dan akan selalu membekas.

Aku bahagia jika kau bahagia, walau bukan bersamaku. Telingaku juga akan tetap mendengar kisah indah hidupmu, bersamanya.

Mungkin Tuhan menjadikan kita berjalan mengitari bola. Kita mengambil jalan yang berbeda, namun pada akhirnya dipertemukan kembali pada satu titik. Atau Tuhan punya matahari baru untukku yang lebih terang , yang bisa aku jaga sinarnya tetap menyala. Jika ya, aku akan mencarinya !

Namun, hingga saat itu tiba izinkan aku untuk menyimpan senyumanmu untuk kujadikan bintang kecil di dalam duniaku :) .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...