Langsung ke konten utama

Elastisitas hati dan pikiran



Mungkin ini saatnya aku mengatakan semuanya. Aku tahu ini seharusnya tak pernah aku katakan, setidaknya sampai saat yang tepat . Tapi aku sudah hampir kehabisan kata-kata. Semua kata yang aku berikan pasti hanya berujung pada satu makna dan aku yakin kau tahu itu. Mungkin setelah aku menuliskan ini, aku akan berhenti menuliskan sesuatu tentangmu. Aku ingin beristirahat sejenak, tak baik seseorang terlarut dalam kesedihan terlalu lama.

Kau pernah bertanya “Kenapa sih gak ngejar wanita lain ?”. Jawabannya, aku tidak tahu. Aku merasa tak ada yang bisa menggantikanmu. Banyak kok yang datang dan sepertinya open terhadapku, tapi aku tak tahu mengapa semuanya hanya berlangsung sebentar. Aku menemukan rasa jenuh dan bosan , sangat beda jika denganmu.

“Kenapa sih gak pernah muji aku cantik sekali aja ?” . Aku akui, aku tidak pernah mengatakan itu langsung terhadapmu. Aku tak mau mengatakannya kepadamu. Tapi percayalah, hati ini selalu berkata demikian setiap kita bertemu.

“Kenapa sih emosi terus ?”. Hal ini juga sering terjadi. Sebenarnya aku bukan emosi, tidak sama sekali. Aku cuman bingung dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan setelah aku begitu, aku buta sama sekali mengapa aku bisa sampai begitu. Sebenarnya aku hanya tak ingin kau sedih atau kehilanganmu. Itu saja.

“Kenapa akhir-akhir ini berubah ? Iya, aku bisa mengerti kok perubahannya”. Iya, aku memang berubah dan aku beda sekarang. Aku merasa kita sudah beranjak dewasa. Aku juga merasa tak harus selalu mengingatkanmu makan lagi, karena kita pasti sudah mengerti dalam benak kita masing-masing. Aku berpikir, ‘ah pasti dia tahu biasanya jam segini aku mengingatkannya makan’.

“Maksudnya bang ? “. Ini juga sering terjadi kau tanyakan. Aku hanya ingin sekedar membuatmu tertawa, tak lebih. Mungkin kau bingung dengan caraku untuk membuatmu tersenyum. Namun begitulah, segala cara akan aku lakukan. Dan sekarang pertanyaan ini jarang muncul karena kau sudah mengerti dengan caraku. Dan akhirnya kita nyambung lalu tertawa bersama.

“Eh kemarin kita pernah ke sini kan ? lupa ya ?”. Aku akui sebenarnya aku jarang ingat semua tanggal spesial kita, namun momennya aku ingat. Karena aku merasa kita selalu dekat tiap hari. Jadi aku merasa percuma mengingat semua itu dan lebih baik membuat momen-momen indah selanjutnya yang akan kita buat, terlebih menjagamu selalu.

“Harusnya minta maapnya kemaren ,udahlah gausah dibahas”. Aku sengaja tak meminta maaf di setiap kita bertengkar. Karena aku tahu kita masih sama-sama emosi dan itu akan mengacaukannya . Terlebih dirimu yang orangnya emosian, aku takut aku juga tak bisa mengontrol diri. Namun ternyata, aku gagal dalam hal ini.

Yang terakhir dan terpenting yang harus kau tahu.
“Kenapa sih bisa suka sama aku”. Pertanyaan ini selalu timbul dalam pikiranku dan aku juga selalu mencari jawaban atas pertanyaan ini. Setiap aku bertemu wanita, aku selalu bisa mendeskripsikannya apakah dia cantik,sedang,biasa saja atau yang lainlah. Tapi saat pertama kali kita bertemu, hanya kau yang pertama kalinya tak bisa aku deskripsikan. Aku gaktau apa yang harus aku bilang. Aku hanya terus mengejarmu dan aku begitu saja langsung suka denganmu. Aku tak tahu mengapa . Aku hanya ingin terus bersamamu dan selalu menjagamu. Dan sampai detik ini, aku tak punya alasan kenapa aku mencintaimu.

Aku sudah mengatakannya semua, aku lega. Sekarang, aku harus belajar merelakan. Sekarang aku harus belajar bahwa “Cinta itu tak harus memilki”. Aku akan belajar merelakannmu dengan orang yang lebih kau cintai. Karena aku hanya ingin terus melihat senyummu yang tulus itu terus ada dan terukir. Jika memang aku tak bisa membuatnya ada lagi, maka aku rela jika seseorang di sana yang melakukannya.  Aku pasti akan rela kau bahagia bersama yang lain jika kau tak bisa bahagia denganku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...