Aku tidak pernah berharap menjadi sama dengan. Karena itu
sangat pahit. Aku tidak pernah tahu apa yan terjadi di belakangku, tak pernah
mengerti keberadaan mereka. Namun aku harus menyatukan mereka, akulah tempat
terakhir mereka sebelum bersatu. Aku tidak pernah berharap untuk menjadi sama
dengan. Yang mungkin saja aku harus menjadi penutup cerita yang tidak bahagia.
Menjadi penutup suatu kisah yang bahkan aku saja buta terhadapnya. Sudah cukup
banyak kisah pahit yang menghangatkan tubuh ini. Menjadi sama dengan tidaklah
mudah. Bersediakah kamu untuk hadir hanya sekedar menjadi ‘pengawal’ ?. Menjadi
sama dengan bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang sulit. Yang perlu
dilakukan hanyalah hadir dan mengakhiri sekian panjang bilangan . Cukup datang
dan biarkan sang pencipta yang memutuskan.
Sama dengan terdiri dari 2 garis yang tidak menyatu namun
berdampingan. Panjang garis sama dengan selalu sama dan tidak pernah berubah.
Mungkin ini yang dibutuhkan ‘pengawal’ akhir dari bilangan. Entah apa yang
dipikirkan oleh Sang pencipta sehingga menmbuat satu garis di atas dan satu
garis di bawah. Mungkin Dia tahu, sulitnya menjaga banyak bilangan yang
berurutan seperti hendak menghantam benteng yang kokoh.
Tapi, sang pencipta selalu membutuhkan sama dengan . Aku bukan
sang pencipta dan bukan sama dengan, apakah aku adalah rentetan bilangan yang
berbaris ? Atau apakah kamu dan dirinya adalah sebuah rangkaian angka yang
membutuhkan aku sebagai penyatu kalian ? Biarkan sang pencipta berkreasi dengan angka dan tanda lainnya.
Hanya Dia yang mampu menjawabnya, dan sama dengan akan melihat akhir dari
barisan angka tersebut.
Komentar
Posting Komentar