Langsung ke konten utama

Menjadi sama dengan



Aku tidak pernah berharap menjadi sama dengan. Karena itu sangat pahit. Aku tidak pernah tahu apa yan terjadi di belakangku, tak pernah mengerti keberadaan mereka. Namun aku harus menyatukan mereka, akulah tempat terakhir mereka sebelum bersatu. Aku tidak pernah berharap untuk menjadi sama dengan. Yang mungkin saja aku harus menjadi penutup cerita yang tidak bahagia. Menjadi penutup suatu kisah yang bahkan aku saja buta terhadapnya. Sudah cukup banyak kisah pahit yang menghangatkan tubuh ini. Menjadi sama dengan tidaklah mudah. Bersediakah kamu untuk hadir hanya sekedar menjadi ‘pengawal’ ?. Menjadi sama dengan bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang sulit. Yang perlu dilakukan hanyalah hadir dan mengakhiri sekian panjang bilangan . Cukup datang dan biarkan sang pencipta yang memutuskan.

Sama dengan terdiri dari 2 garis yang tidak menyatu namun berdampingan. Panjang garis sama dengan selalu sama dan tidak pernah berubah. Mungkin ini yang dibutuhkan ‘pengawal’ akhir dari bilangan. Entah apa yang dipikirkan oleh Sang pencipta sehingga menmbuat satu garis di atas dan satu garis di bawah. Mungkin Dia tahu, sulitnya menjaga banyak bilangan yang berurutan seperti hendak menghantam benteng yang kokoh.

Tapi, sang pencipta selalu membutuhkan sama dengan . Aku bukan sang pencipta dan bukan sama dengan, apakah aku adalah rentetan bilangan yang berbaris ? Atau apakah kamu dan dirinya adalah sebuah rangkaian angka yang membutuhkan aku sebagai penyatu kalian ? Biarkan sang pencipta  berkreasi dengan angka dan tanda lainnya. Hanya Dia yang mampu menjawabnya, dan sama dengan akan melihat akhir dari barisan angka tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...