Langsung ke konten utama

Kodein aja

Aku bingung sebenarnya samamu. Kau kukasih kode kau responnya, tapi kau diam. Aku gak ngerti apa yang ada di pikiranmu itu. Kalo kau respon sikit aja kode itu trus kau kode balek, seujung kuku aja, pasti tau aku langkah selanjutnya yang mesti aku buat. Ini enggak, kau tau aku kode trus kau telan aja keknya semua. Apa cuman mau kau nikmatin ajanya semua yang udah aku buat ? Kalo mau gitu, ke Temzon matahari sana aja kau .

Aku capek lah kalo kekgini terus. Aku sebenarnya, masih jauh di otak aku untuk nyari yang lain. Kalo diumpamakan, kalo sekarang aku di Medan, nah pikiran aku untuk nyari penggantimu itu di Planet Venus sana. Masih belum terpikirlah pokoknya !.

Aku kalo disuruh nunggu atau kau butuh usaha yang lebih keras, aku gak keberatan. Aku bersedia aja. Malah aku senang, karena setidaknya masi ada bangku di hatimu itu. Setidaknya, itulah yang muncul di otakku. Tapi kalo kau malah acuh tak acuh macam lampu merah, pening aku.

Karena kalo soal berjuang, semua cowok kurasa pasti siap. Karena memang kekgitunya terus. Aku masih punya banyak tulisan ini yang bisa aku buat untukmu. Masih banyak juga puisi yang bisa aku buat kalo memang kau masih berharap aku untuk berjuang.

Kalo umpanya kau suruh pun nunggu juga gak masalah. Nasi goreng aja kutunggu, apalagi kau . Kalo nunggu memang bosan, tapi kalo ada tujuan kan enak. Pas nunggu itu pun, aku bisa sambil berharap. Tinggal kodein aja kok!.

Kalo memang masih mau balek kek dulu, kurasa kau pun pasti ada kau buat untuk nyadarkan aku. Intinya, kodein aja. Aku sekarang juga gak mau terlalu berharap sekarang. Karena sakit kali kalo gak terwujud. Kek kelingking kaki yang terantuk bangku kursi . Nengok respon kau yang sekarang, keknya udah kecil kemungkinan.


Gitu aja ya, aku makan dulu! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...