Ketika kita harus menjauh di saat kita benar-benar sayang itu
sakit. Sakitnya akan terasa lebih saat orang yang akan kita jauhi juga tidak
ingin. Sampai tak sadar, kami menjatuhkan airmata. Aku pernah merasa begitu. Di
saat kami berdua merasa sangat dekat dan saling menyangi, jarak datang merampasnya
begitu saja. Awalnya aku kuat, sangat kuat hingga tak ada airmata saat aku
berpisah dengannya. Namun aku lupa
akan satu hal yaitu, waktu. Tak habis
dengan jarak, waktu mulai menghantamku
untuk merusaknya. Aku yang saat itu yakin akan menang mulai ragu. Aku
mulai merasa tidak mampu untuk melakukan hal yang seharusnya aku lakukan. Aku
bimbang, apakah cukup dengan doa dan terus mengabarinya itu cukup ? . Aku bingung .
Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....
Komentar
Posting Komentar