Langsung ke konten utama

Aku di sini

Hai kamu, apa kabar ? Aku harap kamu baik-baik yah, ntah dengan yang baru ataupun kamu masih sendiri sama kaya aku hehe. Lagian kan, cuman aku yang berharap kita sama-sama lagi, yakan ? Yaudah gapapa, itu memang harus aku tanggung sendiri.

Oh iya, aku baik-baik aja kok , ya manatau kamu sempat terpikir keadaan aku. Kata orang, apa yang sudah pergi jika kembali lagi pasti tak akan sama. Aku sangat setuju. Aku sudah berubah. Aku sudah berubah sejak kita berpisah. Aku gamau lagi sama kayak dulu, menyia-nyiakan sesuatu yang seharusnya aku jaga. Aku juga udah gamau berpikir singkat lagi. Aku sudah mulai berfikir positif tentang apa yang sudah aku alami. Kecerobohan yang sering aku lakuin juga udah mulai berkurang. Seperti pas kamu butuh waktu serius aku malah becanda, padahal tujuan aku biar kamu lebih santai menghadapi masalah yang memang aku tahu itu berat. Aku sudah belajar untuk lebih serius jika kamu mau aku serius, aku udah bisa bedain saat serius dan saat bercanda. Aku juga udah memperbaiki kelakuanku yang mungkin suka berbohong, karena aku tahu kamu paling benci dibohongi. Aku juga udah mempertajam keahlianku bermain gitar, ya manatau, manatau nih ya, kamu minta aku mainin lagu trus kamu yang nyanyi. Aku sudah lebih mahir, karena aku tahu suara kamu yang merdu layak diiringi dengan petikan yang indah. Aku masih ingat hobi kamu yang suka dibonceng sambil ngebut. Sekarang juga aku sudah lebih ngebut dari yang dulu hehe. Mungkin suatu saat nanti, kita bisa coba satu motor lagi. Pokoknya aku sudah berubah, bukan jadi yang kamu inginkan, tapi jadi lebih baik.

Aku berubah karena memang aku merasa ada hal yang menurut aku memang perlu untuk dirubah. Aku juga tidak ingin merubah sesuatu dalam diriku, yang jika menurutku tidak perlu dirubah, namun butuh sedikit pengertianmu.

Aku sudah mendapat banyak pelajaran sejak kita pisah. Aku juga sudah mendapat banyak hal dan pelajaran yang penting. Jadi, jika kamu pikir sedang menguji aku, tolong hentikan, karena ini sudah begitu lama dan rasa rindu ini sudah begitu menumpuk.

Atau kamu masih terlalu takut untuk memulai hal baru denganku ? Aku paham. Aku siap jika kamu masih ingin waktu yang lebih lama, aku siap. Aku juga akan gunakan waktu itu untuk lebih siap lagi jikalau kamu sudah mau menerimaku lagi.

Atau kamu sudah bahagia dengan yang lain ? Kamu sudah nyaman bersamanya dan aku datang dan itu sangat mengganggumu ? Aku siap pergi ke sudut sana, hanya melihatmu , yang berharap kamu melihat ke sini dan menyadari masih ada aku jika kamu butuh.

Atau kamu sudah tidak ingin melihatku lagi ? Itu tidak masalah, berarti kamu ingin aku berusaha lebih keras lagi dari sebelumnya agar kamu bisa memikirkanku lagi. Aku siap merobohkan benteng hatimu yang kokoh.

Aku selalu duduk di kursiku, menantimu. Jika aku mulai jenuh, aku mulai melihat senyummu yang otomatis muncul di pikiranku. Jika aku mulai lelah, secara otomatis aku berdoa agar aku dikuatkan oleh-Nya. Dan itu membuatku tenang dan semangat lagi.

Aku di sini, rindukan aku dan maafkan masa lalu. Aku siap jika kita memulainya lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...