Langsung ke konten utama

PEMILU (Pemilihan UWUWUUWW)

Halo teman-teman semua, akhirnya aku balik lagi menulis blog di tahun 2019 ini. Dan aku pastikan kali ini tulisan aku tidak berkaitan dengan asmara. 

Topik kali ini agak sedikit berbeda. Timbul dari keresahan pribadi aku sebagai WNM (Warga Negara Muda) yang ada di Indonesia. Keresahan yang sudah aku tahan agar tidak kucurahkan, berharap akan hilang dengan sendirinya. Dan ternyata? Tidak.

Oke langsung saja. Aku ingin bahas pemilu. Ga seperti di judul dong kepanjangannya, hahah. Tentu kepanjangan pemilu adalah pemilihan umum. Kegiatan yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali untuk memilih Presiden dan makanan favoritnya. Heiiiii! Tidak gitu dong. Untuk memilih Presiden dan legislatif.

Jujur aku merasa inilah ‘pemiluku’. Kenapa? Sejak aku diperbolehkan memilih dari umur 17, dan sekarang umurku 22 tahun, baru kali ini aku merasa perlu untuk ikut pemilu. Karena di umur 17 aku belum terlalu mengikuti politik karena membosankan bro! Masa di umur 17 aku harus menonton berita, sementara di nomor 5 remote tvku memutar naruto (walaupun episodenya diulang). Dan akhirnya sekarang aku sudah mulai mengikuti dan akhirnya malah tertarik!.

Haa? Bagaimana bisa?

Pertama karena lingkungan. Dulu waktu umur 17 lingkungan pergaulanku masih seputar futsal, pes, episode terbaru naruto shippuden. Lalu kemudian aku merantau ke Medan, seketika semuanya berubah. Lingkungan pergaulanku berubah. Tidak lagi hanya sebatas futsal dan pes, tetapi juga organisasi, komunitas dan sebagainya. Di dalam lingkungan itu aku sering mendengar kata politik. Sehingga jika ingin nimbrung dalam obrolan aku harus mempunyai argumen sendiri dan tentu mengetahui apa pembicaraan mereka.

Karena hal itu, aku mulai belajar dan membaca mengenai pemimpin Indonesia. Sederhana saja, dimulai dari presiden yang pertama hingga presiden sekarang, lalu diikuti kinerja dan rekam jejaknya. Lama-kelamaan aku sudah mulai sedikit memahami hingga sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...