Langsung ke konten utama

Cuitan Politik Part 3


Tulisan ini hanya sekedar penyegaran pemilu saja ya teman-teman. Ilmu yang aku punya masih kurang untuk membuat tulisan yang pintar. Mungkin aku kebanyakan membahas pemilu dari sisi nurani dan milenial saja. Yuk lanjut.

Pemilihan umum kali ini memang banyak menimbulkan perdebatan. Mulai dari partai pengusung hingga calon presidennya. Yang bertarung kali ini adalah Pak Jokowi sang ‘juara bertahan’ melawan penantangnya Pak Prabowo. Dari rekam jejak Pak Jokowi unggul dalam bidang pemerintahan karena pernah menjadi walikota Solo dan Gubernur Jakarta serta sekarang menjadi presiden RI.  Dari sisi pengabdian Pak Prabowo menang karena sudah masuk akmil (Akademi Militer) sejak umur 18 tahun (berdasarkan debat capres kemaren ehhe).

Beliau yang disebutlah yang akan bertarung.  Keduanya merupakan anak bangsa terbaik.  Belum lagi mereka didamping wakil yang berkualitas. Pak Jokowi bersama Kyai Haji Ma’aruf Amin dan Pak Prabowo bersama Pak Sandiaga Uno. Kapabilitas beliau sudah tidak diragukan lagi.

Mungkin banyak generasi millenial yang kurang mengenal capres dan cawapres yang sedang bertarung. Ketakutanku sekarang adalah ketika pemilu banyak dari mereka yang tidak mencoblos atau asal mencoblos. Berdasarkan data KPU, jumlah pemilih millenial mencapai 70-80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Wajar kan semua pada takut ?

Pemilih millenial kebanyakan itu pengguna media sosial dilihat dari segi usia. Wajar para politikus sekarang banyak merambah ke media sosial untuk berkampanye. Berharap cuitan mereka mencuri perhatian kaum milenial. Konten yang dibuat pun menarik dan sesuai dengan selera anak muda.
Lantas apakah itu cukup untuk membuat anak muda peduli terhadap politik?  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...