Langsung ke konten utama

#Cuitanpolitik Pemilu di Indonesia dan di Amerika


Sabtu 6 April 2019

Ini adalah #cuitanpolitik yang ke selanjutnya haha. Kemaren aku absen nulis karena lagi ngedit viedo untuk konten youtube aku juga. Subscribe ya yosuabatara.
Tadi aku liat twitter mengenai pemilu juga.  Ga terasa emang 11 hari lagi kita bakalan nyoblos pemimpin baru. Tapi ada juga yang masih belum peduli bahwa suaranya iatu penting untuk membawa perubahan.

Pemilu di Indonesia hampir mirip dengan yang ada di Amerika kemaren. Aku baru sadar setelah baca tweet dari koh Ernest Prakasa. Intinya gini bahwa di Amerika Hillary Clinton itu udah sempet unggul dalam prediksi ketimbang Donald Trump. Tapi yang menang ? Malah Donald Trump.
Menurut aku situasinya hampir mirip sih dengan di Indonesia. Pak Jokowi menurut aku lenoh ‘di atas angin’ karena prestasi dan pencapaiannya selama jadi presiden ketimbang Pak Prabowo. Melihat antusias masyarakat baik di media sosial dan di lingkungan aku sendiri kayaknya memang bakalan unggul .

Tapi yang ini juga terjadi di Amerika. Hillary Clinton sempat diunggulkan dalam survei ketimbang Donald Trump. Dan Hillary Clinton juga sempat berada di kabinet presiden Obama. Tapi pas pemilihan umum yang terjadi malah Donald Trump yang menang.

Kenapa ?

Karena generasi muda di sana memilih untuk golput. Mereka tidak datang ke TPS disana untuk nyoblos. Hasilnya ? Hillary Clinton malah kalah. Dan sekarang mereka semua menyesal dengan menyerukan #NotMyPresident. Buat apalagi sekarang ?
Jadi jangan seperti kejadian seperti ini terulang di Indonesia. Mau pilihan kalian 01 atau 02, yang pasti kalian harus nyoblos. Pastikan diri kalian berkontribusi untuk negara ini. Karena ini pilihan 5 tahun sekali.

Yeah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...