Langsung ke konten utama

Part 2


Akhirnya kemudian aku ikut berbicara tentang politik. Dari segi apapun itu dan mengikuti perkembangannya. Sebegitu besarnya pengaruh lingkungan sehingga bisa merubahku yang tadinya pasif menjadi lebih aktif. Mungkin bagi teman-teman yang pasif dalam hal politik bisa menambah lingkungannya agar menjadi aktif.

Mulai dari korupsi e-KTP, pelemparan miras ke wajah Pak Novel Baswedan dan kasus korupsi lainnya aku mulai tertarik. Tetapi semakin aku mencari tahu mengenai politik fakta yang aku dapat malah semakin tidak aku harapkan. Kebanyakan fakta mengenai kekerasan dan korupsi, jarang fakta yang baik. Atau aku yang kebetulan memang selalu mendapat berita yang jelek ? Tapi pemberitaan di televisi juga sama dengan pencarian yang aku lakukan.
Apapun itu setidaknya aku tahu bahwa politik itu kejam. Siapa yang tidak bisa ikut arus akan kalah. Mungkin itu yang menjadi penyebab Indonesia begini saja.  Belum lagi artis yang terjun ke dunia politik yang sempat membuatku bertanya “Apakah politik dan jabatannya bisa didapatkan dengan ketenaran?”.

Kasus yang sempat membuatku semakin tertarik adalah kasus dipenjaranya pak Ahok. Beliau dipenjara karena kasus penistaan agama. Kasus itu juga sempat menjadi trending topik obrolan di lingkunganku. Seperti biasa ada yang pro dan kontra. Tapi ada juga yang tidak perduli katanya tidak mempengaruhi kehidupannya. Hei lontong malam! Setidaknya manusia itu punya perasaan empati. Kau kemanakan empatimu itu? Yang gini nih yang harus minum air hangat tiap hari!
Memang itu ga mempengaruhi hidupmu, tapi selama kau masih manusia masa tidak ada rasa keprihatinan terhadap sesamamu manusia apalagi beliau sedang merubah Jakarta, ibukota negara kita, menjadi lebih baik!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...