Langsung ke konten utama

Kecewa

Kali ini aku pengen bahas sesuatu yang mungkin sering kita rasakan bersama. Iya kau juga termasuk, kau, kok nengok belakang pulak.

Kecewa menurut aku beda dengan marah. Karena kalo marah itu adalah pelampiasan yang rata-rata berakhir kasar. Sedangkan kecewa sedikit lebih ‘berkelas’  dibanding marah. Gak semua orang bisa kecewa. Kebanyakan orang lebih memilih marah dibanding kecewa. Karena jika kita marah maka kita akan melampiaskannya secara kasar. Kalo kecewa kita ‘marah’ namun dengan kepala dingin. Kita sampaikan dengan baik-baik lalu setelah itu diam.

Kecewa merupakan marahnya orang sabar. Seram ? Iya lah. Marahnya orang sabar itu seram. Gak harus main tangan atau memaki,biar dibilang seram. Cukup diam. Itu lebih seram, serius. Gadak yang lebih sakit daripada didiamkan. Jika marah berarti masih perduli, namun jika terlanjur kecewa ? mungkin bisa diperbaiki namun sedikit lebih rumit.

Jika kalian pernah dicurangi atau disakiti lalu kecewa bukannya marah, maka tersenyumlah. Kalian membuktikan bahwa diri kalian adalah orang yang sabar. Yang jika diperlakukan tidak semestinya kalian memilih tersenyum atau mengalah dan mengambil sikap baik untuk memperbaiki suasana. Tanpa kalian sadari, jika kalian dikecewakan dan memilih jalur yang ‘berkelas’ maka tindakan kalian sudah tepat. Hal ini lah yang diperlukan di zaman sekarang ini. Bukan tersulut emosi lalu marah dan main hakim sendiri sehingga memperkeruh suasana.


Mari kita belajar bersama untuk ‘kecewa’. Karena yang namanya masalah itu pasti selalu ada. Maka jika itu tidak dapat dibendung maka cara lain adalah atasi diri kita sendiri. Apapun yang terjadi cobalah tenangkan diri sendiri terlebih dahulu. Setelah itu sampaikan dengan baik. NAH ITU LAH DIA ‘KECEWA’.  Aku harap kalian mengerti apa yang aku tulis karena aku sendiri masih mengalami kesulitan dalam menyampaikan sesuatu melalui tulisan. Tapi intinya, apapun yang dihasilkan saat emosi tidak baik. Maka "kecewalah" . 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...