Langsung ke konten utama

APA KABAR WOI

HALO WE !

Akhirnya aku balek ke blog ini haha. Tadi iseng buka laptop karena lagi nyemil dan ga ada kegiatan. Melihat blog ini, rasanya kekmana ya, ada seneng ada juga terharu. Blog ini bisa dibilang saksi hidup dunia pernulisan aku. Aku buat blog ini ya hitung2 sebagai pengganti diary lah yakan, agak malas nulis di buku makanya aku buat disini .

Tulisan terakhirku tahun 2021 ya hahhaah. Aku lupa kenapa ya aku nulis soal perpisahan ? Mungkin aku lagi merenung soal itu. Kalau kalian cek, kebanyakan konten sedih aku tulis kan hahahah. Sadboy kali dari dulu bangke. Karena aku jarang cerita sih, makanya aku nulis aja. Dan kenapa sedih, karena kalau bahagia biasanya jarang aku nulis. Lebih pas aku nulis tentang kesedihan, menurutku ya!

Trus, kabarku kekmana sekarang ?
Tiga tahun sejak tulisan terakhir, banyak juga perjalanan. Kalau soal kabar, baiknya aku. Buktinya masih bisa aku nulis, berpikir, memaknai hidup kekbiasa. 

Ada yang berubah ga selama 3 tahun ?
Pasti lah, sudut pandang dan mental paling mencolok. Mungkin karena umur juga yakan, tanggung jawab sama permasalahan yang buat ini. Kalau fisik aku masi la kurus hahahha. Baju 3 tahun lalu masih muat kupake. Jangankan 3 tahun, baju SMA pun masih muat!

Blog ini, jadi gimana ?
Kuusahakan aku terus nulis disini sih. Walaupun sikit yang baca hahahah telor! Tapi emg kan dari dulu tujuan buat ini biar ada yang nampung isi pikiran aja. Kalau berputar2 di dalam aja gaenak, harus dicurahkan sikit. Tapi soal konsisten ini yang agak payah. Tapi kuusahakn pun!

Kekgitu dulu la ya ? Selo masih banyak hari, semua nanti aku tulis disini. Dah, tidur la.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...