Langsung ke konten utama

Apa Cerita Part II

 Malam we

Udah tidur kalian ? Ini aku start ngetik 00.49 WIB . Aku masih belum ngantuk dan terjaga. Hari ini libur dan aku habiskan seharian di kos untuk tidur. Rencana kemarin mau jalan jalan, cuman capek kali rasaku haha. Kalian kekmana ? Tidur juga ? 

Jujur, aku lagi jenuh jenuhnya sama hidup. Karir, percintaan, keluarga, ekonomi semuanya ga ada yang betul . Hidup setelah 25 emang kejam kali. Hidup kek seakan ga ngasih nafas lagi . Semuanya ga ada yang bisa ngasih aku nafas. Kalau orang orang kan ada kah minimal 1 yang udah stabil, entah ekonomi atau keluarga. Ini aku engga cuk, semuanya nuntut aku ini itu. 

Maksud aku, kalau aja aku baik secara ekonomi, mungkin aku bisa ga pala capek, ya minimal bisa ngopi la. Jadi aku gak kek telor busuk di kosan. Ini engga cuk, semuanya menyerang. Enak kali mengeluh memang hahahha.

Aku yakin, kalian juga pasti ada yang kek aku. Kuncinya sih emang satu, jalanin aja. Aku yakin, kita ini kehabisan senjata cuk untuk menenangkan diri. Mungkin selama ini kita pake senjata "cuek" jadi kita bisa tenang. Ini karena udah keseringan dipake, jadi senjatanya kek ga ngefek lagi .

Saat ini senjataku ya blog ini. Aku tuangkan aja ke sini, biar mampet yang di otak bisa ngalir. Kalian cobala cari senjata supaya bisa "ngejalanin" ini. Karena kita semua ini sedang ujian. Kita semua ini mau naik kelas! Sebagai salah satu peserta ujian, aku cuman gamau kita ada yang gagal, kan kita semua satu "angkatan" . Anjay

Dekatkan diri juga pada-Nya. Percaya aja sama sang pemberi ujian. Dia sedang "memantau" kita ini. Pastikan kita ga mengeluh karena "soal" nya susah. Itu nanti jadi jelek kita, karena itu semua sudah sesuai dengan "Kebijaksanaan-Nya". 

Semangat ya buat kita. Badai pasti berlalu, hujan pasti berhenti. Mamang batagor yang engga, karena ga dengar dia pas dipanggil, jiah.

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...