Langsung ke konten utama

APA CERITA IV

 Met hari minggu guys

Kekmana hari minggu kalian? Aman la yakan. Aku kekbiasala , pagi gereja abistu aktivitas. Ini aktivitas karena aku belum capai target, jadi ya sadar diri la. Kelar aktivitas aku main pes dengan beberapa teman untuk memberi mereka paham. Gitu aja sih aktivitas hari ini.

Ini aku ngetik pukul 23.41 dengan pikiran yang amburadul. Di keluarga aku gagal memenuhi keinginan mamakku, di pekerjaan ga capai target, di percintaan gagal terus, diri sendiri juga udah mau 30 tapi apapun ga punya. Kadang mau bangun besok pagi juga rasanya berat. Cuman kadang bertanya aja, mental seperti apa yang ingin Beliau kasih ke aku ? Aku selalu menganggap cobaan itu sebagai bentuk kasih sayang. Prosesnya ini yang mesti bener bener aku pahamin. Kadang pengen keluar dari situasi ini, tapi mana bisa kan haha.

Padahal dulu di bayanganku waktu SD, aku umur 30 itu udah punya rumah. Bahkan pernah terbesit dulu liat orang kerja udah lama belum punya apa apa. Sekarang aku paham alasannya, paham kali pun. Harus kuakui, sejak aku patah hati di 2023 aku kehilangan sedikit kestabilan berpikir. Emosiku seringkali naik turun sehingga keputusan yang aku buat, atau pekerjaanku jadinya terganggu. Tapi apapun itu, kita harus gas terus yakan.

Malam ini aku paksakan ngetik ini biar isi kepala sedikit terurai. Berisik kali soalnya tadi, padahal sudah siap kali mau tidur. Ini udah agak mendingan la dia. 

Intinya tetap semangat buat kita. Cobaan itu emang gaenak, karena itu adalah sebuah proses. Tetap percaya diri dan mindset jangan sampai kalah sama overthinking. Kita pasti sukses. Bye

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...