Hubungan itu didasari oleh kepentingan yang sama. Dan jika ini
mengarah pada pasangan, maka tulisan ini sesuai dengan ekspektasi.
Cinta itu sesuatu yang murni. Ketika ia hadir, maka individu
tersebut akan menyesuaikan dirinya terhadap cinta. Itulah mengapa, ada beberapa
tindakan kita yang dianggap ‘bodoh’ atau ‘menyakitkan’ bagi sebagian orang. Disinilah
akal berperan, yang diharapkan bisa menetralkan kemurnian tersebut.
Dalam hubungan, memantaskan diri bagi pasangan adalah salah
satu syarat bertanggung jawab. Bagi laki-laki, cara untuk menunjukkan identitas
ini adalah dengan tegas, punya wibawa, pekerjaan tetap, uang yang banyak, dll.
Perempuan punya cara tersendiri, dengan merawat diri, bersolek hingga menjadi
idaman di masyarakat. Ini merupakan kriteria dasar.
Sekarang makna dan pandangan ini meluas. Perempuan sudah
berpendidikan tinggi untuk menunjukkan eksistensinya, juga laki-laki yang malah
semakin sabar dan pengertian, tidak lagi terkesan ‘gaul’ yang menjadi daya
tarik. Ini semua karena adanya ‘pasar’ yang harus dipenuhi.
Jika hubungan yang dimaksud adalah kekasih, maka ini akan lebih
jauh. Cinta sudah pasti menjadi akar dari semua. Dan di dalam cinta ada
pemberian. Memberi saja sudah merasakan cinta, karena ada harapan, keinginan,
kesedihan. Memberi yang terbaik dari diri masing-masing, bukan berarti memberi
diri seutuhnya.
Pekerjaan tak lagi jadi pengaruh jika sudah merasakan hal di
atas. Karena cinta itu juga bisa memotivasi. Di dalam cinta itu ada pemberian.
Harusnya, motivasi adalah bentuk untuk memberi lebih baik lagi. Hubungan itu
adalah kolaborasi, bagaimana kita untuk bisa mengatasi kekurangan juga memanfaatkan
kelebihan.
Bagian terpenting adalah setia pada prosesnya. Cinta juga
bisa berupa tuntutan, namun bukan destruktif melainkan kebalikannya. Di dalam
proses tersebut, semakin lama maka akan menunjukkan identitasnya. Ketika kita
memutuskan untuk komitmen dan setia pada proses, kita akan menganggap masalah
itu sebagai tantangan.
yosuabatara
Komentar
Posting Komentar