Langsung ke konten utama

Pengaruh pekerjaan perempuan dalam suatu hubungan


Hubungan itu didasari oleh kepentingan yang sama. Dan jika ini mengarah pada pasangan, maka tulisan ini sesuai dengan ekspektasi.

Cinta itu sesuatu yang murni. Ketika ia hadir, maka individu tersebut akan menyesuaikan dirinya terhadap cinta. Itulah mengapa, ada beberapa tindakan kita yang dianggap ‘bodoh’ atau ‘menyakitkan’ bagi sebagian orang. Disinilah akal berperan, yang diharapkan bisa menetralkan kemurnian tersebut.

Dalam hubungan, memantaskan diri bagi pasangan adalah salah satu syarat bertanggung jawab. Bagi laki-laki, cara untuk menunjukkan identitas ini adalah dengan tegas, punya wibawa, pekerjaan tetap, uang yang banyak, dll. Perempuan punya cara tersendiri, dengan merawat diri, bersolek hingga menjadi idaman di masyarakat. Ini merupakan kriteria dasar.

Sekarang makna dan pandangan ini meluas. Perempuan sudah berpendidikan tinggi untuk menunjukkan eksistensinya, juga laki-laki yang malah semakin sabar dan pengertian, tidak lagi terkesan ‘gaul’ yang menjadi daya tarik. Ini semua karena adanya ‘pasar’ yang harus dipenuhi.

Jika hubungan yang dimaksud adalah kekasih, maka ini akan lebih jauh. Cinta sudah pasti menjadi akar dari semua. Dan di dalam cinta ada pemberian. Memberi saja sudah merasakan cinta, karena ada harapan, keinginan, kesedihan. Memberi yang terbaik dari diri masing-masing, bukan berarti memberi diri seutuhnya.

Pekerjaan tak lagi jadi pengaruh jika sudah merasakan hal di atas. Karena cinta itu juga bisa memotivasi. Di dalam cinta itu ada pemberian. Harusnya, motivasi adalah bentuk untuk memberi lebih baik lagi. Hubungan itu adalah kolaborasi, bagaimana kita untuk bisa mengatasi kekurangan juga memanfaatkan kelebihan.

Bagian terpenting adalah setia pada prosesnya. Cinta juga bisa berupa tuntutan, namun bukan destruktif melainkan kebalikannya. Di dalam proses tersebut, semakin lama maka akan menunjukkan identitasnya. Ketika kita memutuskan untuk komitmen dan setia pada proses, kita akan menganggap masalah itu sebagai tantangan.

 

yosuabatara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...