Langsung ke konten utama

Apa yang aku cari di dunia ini ?

Kadang aku bingung, apa sebenarnya yang aku cari di dunia ini. Benar kalau aku butuh uang, karena itu dasar. Tapi kadang ada sisi kadang aku semangat mencari uang. Aku giat untuk bekerja tanpa mengeluh. Aku mengerjakan semua pekerjaan kantor dengan beres. Bahkan aku ikut membantu divisi lain. Semuanya aku lakukan dengan ikhlas.

Tapi kadang aku kembali lagi ke pertanyaan itu. Apa sebenarnya yang aku cari di dunia ini. Kebahagiaan ? ini juga benar. Karena hidup di dunia yang penuh dengan cobaan ini tentu kita harus bahagia. Banyak yang gagal untuk meraihnya, namun hingga saat ini aku tidak mengalami masalah.

Dulu ketika kecil, semuanya begitu mudah untuk digambar. Dulu waktu kecil, semuanya begitu mudah digambar. Bisa jadi juga diarahkan ? Misalnya, waktu kecil aku TK, setelah itu yaudah langsung SD. Aku gatau tu, apakah emang aku harus SD atau engga. Namun karena aku belum bisa mengambil keputusan, maka aku ikut. Setelah SD selesai, aku langsung menuju SMP.

Proses dari SD ke SMP itu aku udah bisa berpikir. Tapi belum bisa mengambil keputusan. Karena Bapakku juga kebetulan guru di sekolah yang ada SMP-SMA nya, yaudah jadi aku ‘ikut’ lagi. Aku benar benar ga masalah dan tidak tahu harus mau ngapain juga. Mana terpikir aku menolak untuk tidak mau SMP. Aku hanya tau kalo abis SD itu ya SMP, udah. Jadi mau dimanapun aku sekolah ya gamasalah.

Aku tidak mengalami masalah berarti dari TK – SMP. Bersyukur juga aku karena orangtuaku diberi kemampuan untuk membantu pendidikanku. Dari motor di rumah hanya Suzuki jetcooled sampai sekarang Supra X 125 tahun 2006. Pokoknya aku bisa sekolah dan uang buku juga ga ada masalah itu udah senang aku.

Memasuki masa SMP juga aku baik-baik saja. Disitulah aku mengenal apa artinya menjadi anak guru. Capek kali tapi enak. Capeknya ya harus terus nilai bagus dan jadi contoh. Tidak berbuat onar di sekolah dan harus bisa mata pelajaran yang diajar oleh Bapakku. Bapakku kebetulah guru bahasa inggris, jadi aku harus bisa. Itu ga masalah bagi aku, aku ikutin aja apa yang sudah diberikan. Dari dulu sih, apa yang dibilang aku turutin aja. Jarang aku bilang gamau atau membantah.

Nah, aku terasa mempunyai pilihan waktu SMP menuju SMA. Pikiranku sudah bisa mulai bekerja. Setelah beberapa tahun aku tidak pernah diberikan pilihan, atau mungkin aku juga terlalu buta dan tidak perduli terhadap diriku. Aku sempat ingin masuk sekolah negeri favorit di kotaku. Itulah pertama kalinya aku mengajukan pilihan. Akhirnya aku bisa berpikir apa sebenarnya yang aku mau. Walaupun aku gatau, apakah pilihan aku itu tepat atau engga. Pokoknya aku berhasil mengajukan sesuatu kepada orangtuaku.

Itupun karena dibuka oleh kakakku. Dia berhasil membuktikan kepada orangtuaku bahwa dia bisa memilih apa yang dia mau. Kakakku berhasil keluar membuat pilihan. Itu sempat membuat kedua orangtuaku kaget. Anak perempuan pertama mereka berhasil membuat pilihan. Itu juga yang memacu aku juga untuk membuat pilihan.

Sekarang aku baru sadar, bahwa pilihan aku dulu juga akibat kakakku. Kalau dia tidak berhasil memilih, mungkin aku tidak ada berfikir untuk membuat pilihan. Alasan lain adalah, menurutku, perempuan yang sekolah di negeri itu cantik. Setiap ada upacara besar di Kantor Gubernur, pasti aku ketemu salah satu yang menarik, haha.

Aku gagal. Aku tidak lolos seleksi masuk SMA negeri favoritku. Waktu itu juga aku sedih, karena gagal memperjuangkan pilihanku. Namun solusi itu selalu dekat. Aku tinggal masuk ke sekolah tempat Bapakku mengajar. Masalah selesai.

Selama masa SMA juga aku tidak mengalami kendala. Namun pemikiran dan pilihan semakin terbuka. Aku semakin membuka mata, bahwa aku dikelilingi oleh pilihan yang banyak. Aku sudah merancang mau kuliah dimana, aku ambil jurusan apa dan aku akan tinggal di kost. Tinggal sendiri yang membuat aku sangat tertarik. Melihat beberapa temanku yang juga tinggal di kost waktu SMA, aku berpikir ‘kuliah aku harus ngekost nih”.

Poinnya, aku punya pilihan. Aku semakin bisa berkuasa atas diriku sendiri. Tentunya dibukakan jalan juga oleh kakakku. Ia berhasil membuktikan lagi pilihannya untuk kuliah keluar kota. Ia masuk di Universitas negeri ternama di Sumatera. Tentu aku jadikan acuan, dan kali ini tidak boleh gagal.

Ketika aku mempunyai sesuatu untuk dicapai, hidupku terasa semakin mudah dan terarah. Apalagi pilihanku dan orangtua itu searah. Aku diancam tidak dikuliahkan jika tidak lolos di negeri. Karena memang biaya kuliah di swasta mahal. Aku menganggap itu sebagai hal positif, toh aku juga ingin kuliah disana.

Aku berhasil. Aku bahkan lolos di 2 universitas negeri. Kampus yang sama dengan kakakku dan juga kampus lainnya. Bahkan aku meminta orangtuaku untuk memberikan saran mana yang terbaik. Senang kali rasanya. Merantau dan akhirnya aku bisa tinggal sendiri. Tanpa dipanggil atau disuruh ke warung.

Garis lurus pendidikan itu kini sudah selesai. Dari SD hingga,  syukur lulus D-IV (setara S1). Semuanya sudah selesai aku jalani. Perjalanan menyelesaikan pendidikan terakhir yang paling banyak mempengaruhi pikiranku. Pelajaran akan kehidupan ini juga paling banyak aku dapat.

Bahkan dalam meraih pendidikan itu, aku juga terpaku pada kehidupan normal. Aku harus tamat tepat 4 tahun, kalau bisa bahkan 3.5 tahun. Biasa, keinginan semua anak kuliah agar bisa lebih cepat keterima kerja.

Ketika garis lurus pendidikan itu selesai, aku memilih untuk mencari kerja. Karena bagiku juga itu hal yang logis. Aku ingin punya uang sendiri dan lepas dari jeratan beban orangtua. Karena orangtua juga semakin tua, aku ingin membahagiakan mereka sebelum terlambat. Aku rasa ini cita cita semua anak.

Sekarang, aku bersyukur juga sudah bekerja. Garis lurus pendidikan + tahap pertama dalam kehidupan, yaitu bekerja sudah dan akan aku lalui. Menurutku, kalau semuanya ini bukan karena keadaan, aku juga belum tahu apakah bekerja merupakan pilihan yang tepat. Aku butuh makan, ya aku bekerja.

Kembali ke pertanyaan semula, apa sebenarnya yang aku cari di dunia ini?. Mungkin pikiran ini timbul setelah aku ‘cukup’ dengan keadaanku sekarang. Waktu nganggur, mana pernah aku berpikir seperti ini. Pasti tujuan selanjutnya adalah bekerja dan menafkahi diri sendiri. Apapun akan aku kerjakan untuk mendapat uang. Mungkin ya, aku berfikir seperti ini karena kebutuhan pribadiku sudah terpenuhi. Aku ngetik ini di laptop pribadi, dengan suasana kantor yang nyaman. Diiringi lagu batak yang auto playlist .

Mungkin ya, kalau aku lebih cepat sadar bahwa aku bisa memilih dan aku itu punya banyak pilihan, pertanyaan ini tidak akan timbul. Aku bisa jadi terbiasa untuk mengambil keputusan dengan cepat. Aku punya pendirian yang lebih baik dan bisa fokus. Sementara, hal itu baru aku pelajari ketika aku bekerja . Jadi aku masih buta tentang apa yang sebaiknya aku lakukan dan tidak. Berpengaruh terhadap manajemen waktu pribadiku.

Bisa jadi pertanyaan ini timbul juga karena sejalan dengan iringan waktu. Inilah memang pertanyaan yang timbul ketika orang sudah bekerja. Dengan kondisi, masih ingin meraih sesuatu atau merasa jenuh dengan kehidupan sekarang.

Mungkin juga timbul karena aku melihat kekejaman dunia secara lebih dekat. Aku dihadapkan pada pilihan yang akhirnya ‘dosa mana yang paling ringan’. Aku mulai dikelilingi permintaan yang tidak aku inginkan. Atau situasi yang harus aku selami, padahal itu tidak perlu. Perlu sih, hanya untuk karir dan pencapaianku di perusahaan. Hal ini tanpa aku sadari, sudah aku pendam. Hingga memang ada kemungkinan untuk timbul dengan cara pertanyaan seperti ini.

Jika ditelusuri, aku memang ingin punya uang banyak. Hal yang akan aku lakukan adalah, memberangkatkan orangtua ke Jerusalem, membantu kuliah adik, membantu adik membuka usaha. Jika masih ada, membuat karya seperti film yang aku sutradari sendiri. Terakhir, memnbuat satu rumah yang bisa ditinggali oleh siapa saja. Jika ada yang ingin belajar bisa, ingin sekedar tinggal bisa, ingin berdiskusi bisa, ingin berkarya bisa. Udah.

Terdengar klasik kayaknya ya ? Tapi itu memang yang terpikir olehku saat ini. Mungkin kalau semua itu sudah terpenuhi aku sudah cukup. Mungkin aku akan membutuhkan uang tetap kan, karena pasti ada biaya operasional untuk itu. Tapi sudah tidak banyak lagi, tidak ingin sampai menimbun. Hingga saat ini, aku belum memiliki selera untuk memewahkan kebutuhan pribadiku.

Aku merasa dengan seperti itu, hidupku bisa tenang. Siapa yang iri dengan kita yang hanya punya rumah untuk menampung semua orang ? Apakah ada yang merasa terhalangi ? Mungkin ada, tapi apakah itu bisa membuatku mengeluh ? Aku hanya punya rumah untuk semua orang. Tidak perduli apapun latar belakang dan kondisi fisik. Selagi bernyawa boleh singgah bahkan tinggal. Kita semua akan saling memahami dan memotivasi. Jika ada yang merasa cukup, boleh keluar rumah dan silahkan memulai kehidupan yang baru.

Itulah mungkin yang aku cari di dunia. Uang yang banyak untuk mewujudkan impianku tadi. Idealis seperti itu, harus didukung dengan uang yang banyak. Mungkin engga juga ya, niat dan usaha serta doa bisa juga, tapi emang uang itu 50% . Aku yakin pasti ada aja donatur itu yang akan membantu.

Bisa jadi itulah dunia kecilku. Di dalamnya akan aku buat tanpa kebencian. Semua orang bisa memahami satu sama lain. Perasaan saling membutuhkan dan belas kasih akan tercipta disana. Jadi ketika ada orang baru yang masuk, ia merasakan ketenangan dan bisa belajar banyak. MEMAHAMI akan menjadi pelajaran yang utama.

Terimakasih tulisan, sudah menjadi sarana untuk menemukan jawaban yang aku cari selama ini.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...