Langsung ke konten utama

Surat terbuka untuk Perwira Cinta!

Salam perwira!

Hubungan jarak jauh merupakan sesuatu yang sulit untuk dijalani. Begitu banyak pengorbanan yang harus dilakukan oleh pelakunya. Mereka pasti kuat dan memiliki jiwa tangguh. Maka aku menamai mereka sebagai perwira cinta. Dan surat ini kutulis sebagai sesama perwira untuk menguatkan teman-teman lettingku agar tangguh dan kuat.

Para pelaku LDR, kalian adalah perwira cinta. Sebagai seorang perwira kalian harus memiliki jiwa tempur yang kuat. Yang sudah diuji dengan dipatahkan beberapa kali namun bisa mengatasinya. Karena menjalani LDR bukan hanya masalah jarak. Tapi juga bagaimana mengendalikan perasaan. Kita harus bisa menjaga diri agar tidak jatuh terlalu dalam. Kadang rindu yang menjadi pelaku utama atas perasaan yang semakin dalam. Karena semakin rindu, maka akan semakin banyak perasaan yang ikut dan nantinya akan sulit dikendalikan.

Para pelaku LDR, kalian adalah perwira cinta. Maka berperilakulah layaknya seorang perwira. Kalian harus tetap gagah dan kokoh ketika rindu melanda. Aku tahu pengorbanan kalian sudah tidak diragukan lagi. Kalian bisa mengendalikan rindu yang menggunung dan melepasnya perlahan melalui telepon, pesan singkat atau bahkan dalam angan. Bahkan ada yang menyimpan dengan rapat rindu dengan doa. Sungguh luar biasa!

Para pelaku LDR, kalian adalah perwira cinta. Kalian setingkat lebih tinggi dari mereka yang tidak LDR. Maka isi tatapan kalian dengan sangar ketika melihat mereka yang berpacaran. Tunjukkan taringmu pada mereka. Teruslah berlalu tanpa sedikitpun berpikir ingin seperti mereka!. Ingat misi kalian berat, namun yakinlah semua yang dilalui dengan proses yang sulit maka akan berujung dengan kenikmatan yang hakiki.

Para pelaku LDR, kalian adalah perwira cinta. Sebagai perwira tentu tugas kalian berat jika terjadi perang. Maka selalu siap dan siaga dengan ancaman dari luar. Perkokoh pasangan kalian dengan doa dan usaha yang kuat. Siapkan kepercayaan sebagai moncong tank yang siap menembak siapapun yang mengancam hubungan kalian. Yakinkan pasangan kalian dengan kata-kata seorang perwira yang meyakinkan prajuritnya ketika ingin berperang.

Para pelaku LDR, kalian adalah perwira cinta. Perang sesungguhnya akan terjadi ketika pasangan kalian mulai ragu terhadap kalian. Ini merupakan perang besar yang mungkin akan kalian hadapi! Jangan takut dan gentar perwiraku!. Tegakkan bahu dan pundakmu. Aku tahu itu seperti peluru nyasar yang mendarat tepat tubuhmu. Keluhannya ibarat suara meriam yang terus ditembakkan ke arah kita yang membuat kita seakan tak bisa mengelak. Tapi kau adalah perwira! Kau sudah terlatih untuk siap tempur ke medan perang. Hadapi dia dengan pistol kenangan. Tembakkan semua peluru kenangan kalian tepat ke dada dan pikirannya. Itu akan sedikit membuatnya melemah dan kalian akan mendapat celah untuk mengambil alih markas!.
Jika tidak mempan, keluarkan senapan kalian. Tembakkan alasan dan janji kalian sebelum memutuskan untuk LDR. Itu akan membuat dia semakin tidak berdaya. Tapi belum sampai situ saja. Namun 80% kemenangan sudah di tangan. Terakhir gendonglah dia ke posko pemulihan terdekat, Balut dia dengan kata romantis. Kata yang kau ungkapkan dulu ketika kalian masih dalam masa pdkt. Itu merupakan stimulus ampuh untuk merangsang dia kembali sadar.


Tapi ingat perwira cinta, di dalam perang, ada pihak yang menang dan ada yang kalah. Harus kau camkan itu!. Tidak bisa semua perang kau menangkan walaupun kau sudah terlatih begitu keras dan hebat. Jika dengan cara tadi kalian menang, maka dia akan pulih dan akan semakin kuat. Ia akan lebih terlatih lagi dan kalian bisa terus bersama.

Namun jika kalah tegakkan kepalamu perwira! Ingat kau sudah berusaha dan berjuang selama kau merantau. Tak sedikitpun pikiranmu untuk mendua. Begitu banyak penggantinya mungkin yang lebih dari dia, tapi karena kau perwira kau berhasil menolaknya dengan tegas. Kau mungkin saja cinta padanya, tapi ketegasan perwiramu sungguh luar biasa. Jangan kau sesali perjuanganmu! Mungkin saja ini ujianmu untuk bisa mendapat pangkat baru. Silahkan bersedih, namun jangan berlarut. Kau masih harus melanjutkan perjuanganmu karena tak hanya cinta yang kau kejar tetapi juga cita.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...