Langsung ke konten utama

Iseng



TAHUN BARU

Banyak yang bertanya-tanya kenapa sekarang tahun 2015, jawabannya mudah karena kemaren tahun 2014. Tepat tanggal 24 kampusku mulai meliburkan mahasiswanya. Sebagai anak kost yang kampungnya jauh aku mulai resah memikirkan aktivitas di saat libur. Karena aku resah, aku mulai berpikir. Karena kalau aku hanya berdiam diri di kost menunggu liburan habis pasti aku membusuk. Setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk pergi liburan. Aku pergi mengunjungi adik mamaku yang berada di Siantar. Setelah tahu tujuan liburanku, aku pun mulai mandi dan tidak lupa menggosok gigi. Dan juga aku menghubungi pamanku untuk memberi tahu bahwa aku akan datang ke rumahnya. Karena jika tidak diberi tahu, pamanku pasti terkejut dan kalo terkejut terus pingsan aku tidak jadi liburan.
Setelah selesai memberi tahu pamanku melalui telepon, aku matikan teleponnya. Aku pun mulai mengepaki barang-barang yang akan aku bawa. Mulai dari baju, celana, snack, dan juga tidak lupa yang paling penting yaitu tasnya. Setelah semuanya beres aku pun mulai memberi pesan perpisahan dengan kamar kostku. Isi pesannya agar baik-baik selama aku tinggal, tetap menjadi kamar kost jangan beruba jadi kontrakan, jangan suka mengganggu kamar kost lain dan yang paling penting jangan pernah mengganggu bu kost, engga sopan. Akhirnya setelah beres, aku mematikan lampu, agar tidak ada alasan bagi bu kost untuk menagih uang listrik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...