Langsung ke konten utama

Gakpapa :')

Sepertinya kamu sudah mulai bosan dengan aku. Wajar kamu bosan dengan aku. Aku hanya bisa memelukmu dalam doa, sedangkan yang kau butuhkan pelukan hangat yang nyata. Aku hanya bisa menangis bersamamu, bukan menghapus air matamu. Aku hanya bisa menatapmu melalui bintang malam, sedang yang kau butuh tatapan hangat yang menyejukkkanmu. Aku hanya bisa membuatmu tertawa dalam beberapa menit, sedang yang kau butuh tertawa yang lepas sampai kau bisa mencubiti bahkan memukul. Aku hanya bisa menjadi pendegar kisahmu , sedang yang kau butuh adalah pundak tempat kau mencurahkan kisahmu.

Aku pikir doaku sudah cukup membuatku tenang agar kau tenang menjalani harimu. Ternyata itu hanya membuatmu tersenyum sedetik kemudian kau kembali tertawa. Bersamanya. Memang inilah aku dengan segala keterbatasanku. Aku kurang mampu membuatmu bersinar seperti sedia kala. Aku sadar mungkin aku sudah membuatmu jenuh, dan mungkin kau bosan. Kadang kamu juga butuh kali pria lain yang bisa membahagiakanmu. Kadang kau juga pundak yang nyata yang mau menampung segala kisah sedihmu. 

 Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Mungkin aku ingin lari untuk menamparmu agar kau sadar aku di sini juga berjuang . Sedang kau hanya enak berkata seolah kau jenuh. Seolah kau ingin berkata “Hey aku butuh pengertian “ . Mungkin kau lupa aku di sini berjuang untukmu. Karena mungkin ada yang bisa membuatmu lupa akan semua yang pernah kita janjikan . Mungkin Tuhan juga bosan mendengar doaku untukmu. Karena cuman Tuhan yang tau, hanya aku yang tulus berjuang untukmu :’) .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir cerita untuk kisah yang baru

 Tak ada bentuk romantis dari perpisahan. Semuanya itu sama, kembali menjadi terasing. Untuk yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Timbul pertanyaan mungkin, mana yang paling sakit ? pelaku atau korban ? dan sebaiknya apa yang harus kita lakukan ? Sulit merasionalkan mana yang paling sakit. Karena setiap kejadian mempunyai ‘kesulitan’ tersendiri. Kita bisa memilih, namun tidak boleh mencaci. Ada yang meninggalkan karena tak ingin disakiti, dan yang ditinggalkan ternyata bahagia karena terlepas dari ikatan tersebut. Kita sebagai penonton hanya bisa berpendapat. Pendapat kita juga mungkin dipengaruhi oleh masa lalu dan emosi, bukan ? Lantas, kenapa harus diakhiri ? Bukankah sesuatu itu harus dipertanggungjawabkan ? Dan apakah menyerah diperbolehkan ? Manusia adalah makhluk yang mempunyai kehendak bebas. Ya, kita diberikan begitu banyak keleluasaan untuk digunakan. Mungkin ini sudah cukup menjawab pertanyaan di atas. Namun pasti dari kita kurang puas akan jawaban tersebut....

Perasaan

Topik yang ga akan pernah abis di dalam hidupku kayanya soal perasaan. Menurutku, ini adalah hal fundamental dalam bersosialisasi. Ini menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kita lakukan.  Selama kita hidup, hal ini akan melekat pada kita seperti ‘tubuh kedua’. Ia bisa sakit, senang , bingung layaknya manusia. Contoh, ketika kita sudah lelah secara fisik terkadang masih bisa berusaha, kenapa? karena ada bantuan dari ‘tubuh’ kita yang lain sehingga tubuh fisik kita termotivasi dan bergerak kembali. Aku terlalu peka terhadap ‘tubuh kedua’ ku ini, sehingga jika sakit, walaupun tidak terlihat, bisa membuatku juga ikut merasakannya lebih baik daripada orang lain, mungkin ? Ini hal dasar yang kita punya sebagai seorang manusia kan ? fungsinya juga luar biasa, menjadi penghubung tidak terlihat antara kita . Entah apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan hal ini. Mengapa dibutuhkan suatu ‘dudukan’ seperti ini? Kalau kita renungkan kembali, kita suda...

Part of Eirenisme

 22.34 Aku tertatih menuju laptopku barusan. Aku membutuhkannya segera, bak pil yang harus segera aku minum. Jantungku berada di sepertiga detakan, otak mendesak agar kesunyian ini menemukan peraduannya. Hati mengirim sinyal penuh untuk segera mengantisipasi bahayanya. Aku menarik napas dalam ditemani closure dari pamungkas. Ringan saja, kutarik nafas lalu keluarkan. Tampak semilir angin membelah kesunyian ini. Ia membawa jejak kecil kesepian dari dalam pikiran, melebur dan mengangkasa bersama angan. Di setiap hembusannya kuselipkan ringan diriku, berharap Dia melihat aku dalam ukuran ukuran kecil.  Sementara di dalam aku sedang mengerang. Cambuk cambuk kesunyian itu mengenai jiwaku. Aku berputar, mengecil untuk menghindar. Namun di setiap dindingnya mengandung kaca kecil yang menusuk pelan daging mentah ini. Aku menariknya keluar dengan lembut, beraharap perihnya bisa membuat dahagaku hilang. Aku tidak ingin menghindari ini. Sudah saatnya aku masuk ke ruangan gelap ini. Tidak...